Gembira Loka Zoo, Bukan Kebun Binatang Biasa

Siapa yang tak tahu kalau Indonesia adalah negeri yang kaya akan satwanya? Semua orang pasti mengakui hal tersebut. Dari Sabang sampai Merauke, begitu banyak satwa-satwa unik yang ada di Indonesia. Apalagi jika kita bicara soal satwa lautnya. Dengan luas laut yang lebih luas daratannya, Indonesia adalah salah satu surga snorkeling di dunia. Tapi kali ini kita nggak akan bicara soal surga bawah laut Indonesia, tapi kita akan bicara soal satwa Indonesia yang beragam dan bisa kamu saksikan di satu tempat. Menyaksikan beragam satwa Indonesia di satu tempat? Ya! Gembira Loka Zoo! Tempat berkumpulnya seluruh satwa bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari seluruh dunia. Begitu banyak macamnya satwa yang ada di kebun binatang ini.

gembira loka1

sumber google

Gembira Loka Zoo adalah salah satu destinasi wajib tiap liburan bagi sebagian besar wisatawan local maupun wisatawan dari luar kota. Mungkin sebagian dari kamu menganggap, “ah… kan Cuma kebun binatang? Apa spesialnya?” Hahaha… hentikan pandangan sinis itu bung. Karena kamu tahu, ketika kamu berkunjung ke kebun binatang yang satu ini, kamu tak akan pernah mengatakan itu lagi. Gembira Loka Zoo bukan sekedar kebun binatang. Selain satwanya yang bermacam-macam, ada banyak wahana yang bisa kamu coba. Tapi sebelum masuk ke penjelasan tentang wahana-wahana yang ada di kebun binatang ini, akan dijelaskan terlebih dahulu soal serangkaian satwa yang menghuni kebun binatang ini.

gembira loka3

sumber google

Di dalam kebun binatang ini, kamu bisa menemukan banyak satwa langka yang dilindungi. Mulai dari Komodo, Harimau, Gajah, dan beberapa satwa lain yang sulit kamu temui di tempat lain. Selain itu, Gembira Loka juga punya koleksi reptil dan amfibi dari berbagai negara. Selain itu, ada satwa burung yang cukup lengkap disini dan yang menyenangkan adalah, kamu bisa berfoto dengan satwa burung dan reptile tersebut. Tentunya reptile yang bisa kamu ajak foto semuanya tidak berbahaya, meskipun kamu akan tetap deg-degan ketika akan berfoto. Tapi percayalah, setelah foto, kamu akan minta lagi. Selain burung, reptile, amfibi, ada juga koleksi hewan lain seperti penguin, orang utan, zebra, onta, rusa, sampai kuda nil. Pokoknya lengkap deh!

gembira loka2

sumber google

Selain satwanya yang banyak Gembira Loka juga punya wahana lain yang tak kalah seru. Mulai dari skuter air, ATV, perahu boat, banana boat, kano engkol, kapal kataraman, dan masih banyak lagi. Semua bisa kamu nikmati di Gembira Loka Zoo. Inilah kebun binatang yang bukan sekedar menyaksikan hewan, tapi juga bermain dan bersenang-senang bersama keluarga.

Jadi, masih sinis dan nggak mau berkunjung ke kebun binatang? Hahahah! Jangan sampai nyesel guys! So, happy traveling!

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Perjalanan Mengarungi Waktu Di Museum Sonobudoyo

Jika suatu saat nanti tercipta mesin waktu dan kamu bisa pergi ke masa lalu, ke tahun berapa kamu akan pergi? Tidak mungkin? Ya memang, menjelajah waktu seperti yang terjadi di film-film Hollywood itu memang tidak mungkin sekarang ini. Tapi kamu tahu, bahwa kamu tetap bisa menjelajah waktu dengan cara lain. Meskipun memang tidak “benar-benar” kamu berkelanan ke masa lalu, dengan cara ini kamu bisa merasa, ya, merasa seperti sedang berada di masa lalu. Caranya adalah dengan datang ke museum.

sonobudoyo3

sumber google

Nah! Di Jogja, ada sebuah museum yang benar-benar bisa membawamu ke masa lalu. Ke masa ratusan tahun yang lalu ketika bahkan mungkin eyang buyutmu belum dilahirkan. Nama museum yang luar biasa itu adalah Sonobudoyo. Museum Sonobudoyo ini terdapat banyak sekali benda-benda bersejarah yang memiliki nilai yang sangat tinggi. Mulai dari pusaka-pusaka, foto, dokumen penting, perhiasan, sampai mata uang jaman dahulu yang akan sangat sulit kamu temukan di luar museum tersebut.

sonobudoyo

sumber google

Museum Sonobudoyo ini merupakan muara dari beberapa benda sejarah dari Madura, Jawa, Bali, hingga Lombok. Museum ini sendiri diprakarsai sejak hampir seabad yang lalu oleh pemerintahan kolonial demi melindungi semua benda-benda sejarah yang berharga. Jika kamu berkunjung ke museum ini, maka kamu akan masuk ke dalam era yang telah lampau. Kamu akan merasa seperti berjalan mengarungi waktu. Pasalnya sudah jelas bahwa dengan banyaknya barang bersejarah yang bahkan paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia yang ada di Jakarta.

sonobudoyo2

sumber google

Museum ini dibagi menjadi beberapa ruangan dengan spesifikasi barang-barang sejarah yang berbeda di setiap ruangan. Mulai dari ruang pengenalan yang berisi relief candrasengkala “Buta Ngrasa Esthining Lata” dan juga pasren yang punya nama lain krobongan yang terdiri dari tempat tidur, guling, bantal, kasur, sepasang patung loro blonyo, lampu robyong dan lampu jlupak. Lanjut ke ruangan berikutnya yakni ruangan prasejarah yang berisi benda-benda prasejarah dari masa megalithikum, sampai masa bercocok tanam hingga masuk ke masa masyarakat pra modern. Setelah ruang prasejarah, kamu akan masuk ke ruang klasik dan peninggalan islam yang berisi benda-benda klasik dan beberapa peninggalan islam tempo dulu. Lalu ada ruang batik, wayang, topeng, Jawa Tengah yang menampilakn ukiran terkenal dari Jawa Tengah, ruang emas, yang beberapa barangnya pernah dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab karena berisi emas dan benda berharga tinggi lainnya, dan yang terakhir ruang Bali.

sonobudoyo1

sumber google

Di museum ini kamu akan benar-benar time travelling guys! Jadi, liburan kemana yang bisa membuatmu serasa sedang mengalami perjalanan lintas waktu? Museum Sonobudoyo tentunya! So, kalau biasanya happy traveling, kini Indonesia Jernih mengucap salam happy time traveling guys!

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Cemilan Pembuat Baper, Teringat Jogja Kembali

Sebagai salah satu kota tujuan wisata paling ramai di Indonesia, Yogyakarta menyimpan beragam daya tarik. Salah satunya komponen primer dalam kehidupan manusia, yaitu makanan. Banyak orang yang sudah paham jika gudeg adalah salah satu makanan khas Jogja. Namun, apa lagi makanan khas Jogja yang bisa dicicipi ketika liburan di Jogja?

Tiwul

R tiwul

(sumber foto airtanganku.blogspot.com)

Dulu, tiwul menjadi makanan pokok, sebelum beras menjadi bahan makanan utama seperti sekarang. Bahan utama tiwul adalah ketela pohon alias singkong yang telah dikeringkan dan ditumbuk. Tumbukan singkong yang kering ini disebut gaplek. Tiwul adalah hasil matang dari gaplek yang telah dimasak dengan cara dikukus. Umumnya, tiwul yang dimakan sebagai camilan mempunyai rasa manis, hasil dari penambahan gula merah saat tiwul dimasak. Namun, tiwul yang dimakan sebagai makanan pokok tidak ditambahkan gula. Tiwul yang tawar juga dapat dimakan oleh penderita diabetes lho. Saat ini juga banyak dijual tiwul instan yang awet dan bisa jadi buah tangan.

Gathot

R gatot 2

(sumber foto ceritakulinerindonesia.blogspot.co.id)

Bukan, bukan gagal total! Gathot masih “bersaudara” dengan tiwul, karena bahan dasar mereka sama, yaitu gaplek. Gathot berasal dari gaplek yang tidak ditumbuk, namun diiris tipis. Gaplek yang kering, direndam dengan air kapur sirih semalaman lalu dikukus, dan jadilah gathot. Gathot biasa disajikan tawar, dengan tambahan parutan kelapa. Yang menarik, warna gathot ini hitam, tak seperti saudaranya yang berwarna putih. Saat proses pengeringan, terdapat bakteri atau jamur yang memecah senyawa yang terdapat dalam ketela, sehingga warnanya berubah menjadi hitam. Walaupun terdapat bakteri atau jamur yang mengubah senyawa karbohidrat ketela ini, tak perlu khawatir, karena gatot aman untuk dimakan. Tekstur gathot sendiri kenyal dengan rasa tawar. Jika suka rasa manis, boleh ditambah gula merah cair. Sekarang sudah mudah ditemukan gathot instan.

Jadah

R jadah

(sumber foto http://niqmahpalupi.blogspot.com)

Pamor makanan ini sudah cukup beken di mata wisatawan yang berlibur di Jogja, karena mudah ditemui dan biasanya terdapat penjual jadah yang berdekatan dengan destinasi wisata. Salah satu yang cukup terkenal adalah jadah Mbah Carik. Jadah terbuat dari ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan ditumbuk. Rasa jadah cenderung tawar dan agak gurih, karena terdapat penambahan kelapa. Biasanya, jadah dimakan bersama tempe atau tahu bacem.

Geblek

R geblek

(sumber foto http://gemmazani.blogspot.com)

Mungkin pamor geblek tak setenar bakpia atau tiwul. Tapi percayalah, geblek cukup banyak diminati sebagai cemilan tradisional, terutama di daerah Kulon Progo sampai Purworejo. Geblek juga dapat ditemui di Kebumen dengan nama berbeda, yaitu golak. Bentuk geblek pada umumnya berbentuk bundar, atau seperti angka delapan (8), namun ada pula yang berkreasi membentuk geblek menjadi kepang. Tekstur geblek kenyal dan cenderung alot, terbuat dari campuran tepung tapioka dan tepung kanji. Saat terbaik memakan geblek adalah sesaat setelah digoreng, ketika tidak terlalu panas namun masih hangat. Ketika geblek masih hangat, geblek masih empuk dan tidak terlalu alot dengan sensasi crispy. Geblek biasa ditemui di pasar tradisional.

Tempe Benguk

R tempe benguk

(sumber foto http://www.lungo.id)

Kita semua paham bahwa tempe terbuat dari kedelai yang diproses sedemikian rupa sehingga kedelai terikat dengan jamur Rhizopus oligosporus. Namun tempe benguk bukan terbuat dari kedelai, melainkan terbuat dari kacang koro benguk (Mucuna prurien ).  Kacang koro benguk tidak bisa lunak, sehingga ada sensasi unik ketika kita memakan tempe benguk, tak seperti tempe kedelai pada umumnya. Lembutnya jamur tempe beradu dengan renyahnya kacang koro. Biasanya, tempe benguk diolah dengan dibacem. Namun ada pula yang mengolahnya dengan cara digoreng.

Cenil

R Cenil-3

(sumber foto http://www.tulungagungtourism.com)

Siapa sangka kalau makanan kenyal ini terbuat dari tapioka. Cenil dibuat dari tapioka yang dicampur dengan terigu, disajikan bersama parutan kelapa. Rasanya yang gurih dipadukan dengan kinca yang manis, membuat makanan ini menjadi unik dan kaya rasa. Selain itu, biasanya cenil ditambahkan pewarna makanan alami, sehingga membuat tampilannya makin menarik.

Kipo

R kuekipojno

(sumber foto http://jnokitchen.blogspot.co.id)

Jajanan tradisional yang berasal dari Kotagede ini sempat mengalami kepunahan sebelum akhirnya diangkat kembali dan dikenal banyak orang saat ini. Kipo terbuat dari tepung beras yang berpadu dengan kelapa dan diberi air daun suji sebagai pewarna alami. Adonan kipo dipanggang menggunakan pinggan tanah liat yang dialasi daun pisang. Ukurannya mungil, hanya sebesar ibu jari orang dewasa. Asal nama kipo bermula dari saat makanan ini ditemukan, banyak pembeli yang bertanya bahwa ini makanan apa, dalam bahasa jawa “iki opo?” hingga akhirnya disebut kipo.

Bakpia

R bakpia

(sumber foto https://www.kulinerblusukan.com)

Makanan yang satu ini sudah jamak dikenal, dan merupakan salah satu panganan paling dicari wisatawan yang hendak mencari oleh-oleh. Rupanya, asal mula bakpia bukan dari Yogyakarta sendiri, melainkan dari Tiongkok. Dalam bahasa Hokkian, leluhur bakpia bernama tou luk pia, yang secara harafiah berarti kue berisi daging. Dalam evolusinya, makanan ini pelan-pelan disesuaikan dengan lidah lokal, menjadi berisi kacang hijau. Sekarang, isi bakpia makin divariasikan. Tak sulit untuk menemukan rasa bakpia yang makin kekinian, mulai dari rasa coklat, keju, kumbu hitam, bahkan mulai ada yang menjual bakpia dengan rasa teh hijau.

Geplak

R 20160126015331

(sumber foto gudeg.net)

Makanan kebanggaan Bantul ini mudah ditemukan di pusat oleh-oleh. Rasanya manis, terbuat dari kelapa parut yang dicampur gula merah, kemudian ditambah pewarna makanan. Aslinya, warna geplak hanya dua, putih dan coklat. Geplak berwarna putih menggunakan gula tebu, sedangkan geplak berwarna coklat menggunakan gula kelapa atau gula aren. Namun, seiring perkembangan zaman, geplak memiliki berbagai variasi warna dengan penambahan pewarna makanan. Bahkan, kini sering ditemukan geplak dengan variasi rasa, misalnya jahe, strawberry, durian, dll.

Yangko

R yangko

(sumber foto http://katalogkuliner.com)

Yangko sedikit mengingatkan kita pada kue mochi dari Jepang. Teksturnya dan bentuknya memang mirip, walaupun tidak sama. Terbuat dari paduan tepung ketan dan kacang tanah, kemudian dibalut tepung di bagian luarnya. Bentuknya kotak, memiliki aroma wangi yang khas berpadu dengan aroma kacang membuatnya selalu menggoda untuk dimakan. Tidak sulit untuk menemukan yangko, cukup mendatangi pusat oleh-oleh terdekat. Yangko saat ini juga memiliki varian rasa yang bermacam-macam

Intip

R INTIP SOLO

(sumber foto google)

Intip sebenarnya berasal dari Solo. Namun, pada perkembangannya intip juga menjadi oleh-oleh favorit di berbagai pusat oleh-oleh di Yogya. Kita tidak membicarakan tindakan asusila yang namanya sama dengan makanan ini. Intip sejatinya adalah makanan “sisa”, dulu ketika rice cooker belum populer, memasak nasi dilakukan dengan cara merebus beras terlebih dahulu, kemudian nasi setengah matang tadi ditanak kembali. Saat menanak nasi, beras yang direbus tadi meninggalkan kerak gosong di dasar panci. Kerak ini kemudian dijemur hingga kering, hingga proses terakhir digoreng. Kerak nasi yang telah digoreng ini dinamakan intip. Makanan ini juga mempunyai “saudara” yaitu rengginang. Bedanya, rengginang berasal dari beras ketan. Intip memiliki dua varian rasa, manis dan asin. Intip manis dikucuri gula merah cair, sedangkan intip asin ditaburi sedikit garam.

Sempe

R sempe

(sumber foto http://camelia-at-home.blogspot.com)

Kue klasik ini berkembang mengikuti zaman. Saat ini sempe memiliki variasi ukuran dan rasa. Bentuknya tetap bundar dan pipih dengan tekstur renyah dan crunchy, ukurannya mulai dari sebesar koin hingga sebesar piring tatakan gelas. Rasa asli sempe sebenarnya sedikit gurih, namun dengan modifikasi rasa, kini banyak ditemukan sempe dengan berbagai rasa.

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Ketandan, Pecinan Jogja Yang Eksotis

Jogja adalah kota yang beragam. Semua suku dari seluruh Indonesia ada di Jogja. Dari mulai orang Batak, Jawa, Bali, Madura, sampai orang-orang keturunan Chinese. Nah, untuk orang-orang keturunan Chinese, memang selalu memiliki ruang sendiri. Kalau di kota-kota besar di dunia, selalu ada Chinatown yang sepenuhnya berisi orang-orang China. Chinatown atau Pecinan ini juga ada di Jogja lho! Tepatnya di sebuah kampung yang berada di area Malioboro yang bernama Kampung Ketandan.

ketandan

sumber google

Seperti kebanyakan pecinan lain di kota lain, Ketandan dipenuhi oleh orang-orang keturunan Tionghoa. Semua budaya dan kuliner mereka juga ada lengkap disana. Bahkan sampai pada ornamen bangunannya pun nampak so Tionghoa. Di tempat ini ada juga kuil tempat peribadatan mereka dan banyak sekali toko-toko makanan khas Tiongkok. Soal halal dan tidaknya makanan yang mereka jual, alangkah baiknya bertanya dulu sebelum membeli ya, biar nggak terlanjur. Pasalnya, di tempat ini rumah makan yang menghidangkan babi atau pork sangat banyak. Lagi-lagi bicara soal Ketandan dengan segala macam keindahannya. Kalau kamu berkunjung ke tempat ini, pertama kamu akan disambut oleh gapura dengan ornamen dan motif Tiongkok dengan warna yang khas yakni warna merah. Selain itu ada juga hiasan berbentuk naga di gapura selamat datang mereka. Ketika kamu masuk, maka… “Welcome to China!” itulah yang mungkin akan kamu rasakan. Karena semua yang ada disana akan terasa so Chinese.

ketandan2

sumber google

Selain bangunannya, Ketandan juga punya acara rutin tahunan yang selalu mereka selenggarakan. Namanya adalah Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta. Di acara ini kamu bisa melihat banyak sekali budaya-budaya Tionghoa yang sangat luar biasa. Apalagi jika kamu datang ketika pembukaan atau penutupan. Kamu bisa melihat Barongsai, naga yang sering kalian lihat di film-film kung fu, bahkan kalian juga bisa melihat atraksi kung fu dan pergelaran wayang potehi khas China.

ketandan3

sumber google

Kampung ini sudah sangat terkenal di seantero Yogyakarta. Kalau berkunjung ke Malioboro, tidak lengkap rasanya jika kamu tidak mampir sejenak ke tempat ini dan menikmati rasanya ada di China tapi Jogja. So, happy traveling guys!

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Menanti Masa Depan Pantai Glagah

Debur ombak tidak pernah lelah bernyanyi mengiringi sayup angin dari selatan. Walaupun tumpukan pecah ombak, deburan tak henti menemani teriknya siang di Pantai Glagah, Kulon Progo. Sesekali perahu terlihat berlalu, mencari kerumunan ikan yang terlihat untuk dijaring. Semilir angin bercampur percikan air laut menyentuh kulit, terasa sedikit lengket akibat garam namun tetap terasa sejuk. Deretan pohon cemara yang dulu ditanam oleh adik-adik sebuah asrama putri menghijaukan mata, menjadi variasi ketika mata sudah bosan melihat putihnya langit siang dan garis cakrawala.

Entah kapan lagi pemandangan ini bisa dinikmati dengan tenang dan syahdu. Mungkin beberapa tahun lagi pantai ini akan dinikmati dengan suasana berbeda. Akan ada deru mesin turbin jet dan hembusan angin kencang dari mesin pesawat yang take-off dan landing di bandar udara yang ada di sebelah pantai ini kelak.

Sudah lama terdengar bahwa di daerah ini akan dibangun bandar udara baru untuk menggantikan Adi Sucipto sebagai bandar udara internasional Yogya. Namun, sampai sekarang wacana itu belum terlihat eksekusinya. Masih ada beberapa hal yang harus dilakukan pihak berwenang sampai teknis pembangunan bandara baru ini dimulai. Presiden meresmikan groundbreaking bandara ini baru pada tanggal 27 Januari 2017, setelah beberapa kali mundur. Banyak pro-kontra di baliknya. Wajar, karena pembangunan bandara ini juga akan mempengaruhi beberapa aspek, juga akan merubah masyarakat di sekitarnya.

Terik matahari masih belum mau bersembunyi, sinarnya masih ingin tampil tanpa tertutup awan. Masih terlihat beberapa penjual minuman dan makanan di sekitar sini. Lumayan, untuk menghilangkan rasa panas dan dahaga yang kian memenuhi rongga kerongkongan. Beberapa pedagang malah sudah merelokasi seisi warungnya. Pemilik penginapan dan rumah makan di sekitar pantai ini pun juga memboyong usahanya bergeser ke Desa Sindutan.

Selagi masih bisa, pergilah ke Pantai Glagah. Nikmati deburan ombak dan angin laut serta pemandangan laut serta tumpukan pemecah ombak yang instagramable, selagi belum terganggu riuhnya suara crane, truk, dan akhirnya kelak suara mesin turbin jet dari pesawat yang lalu lalang.

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Liburan Ke Jogja Siapa Takut

Merasa masih newbie atau cupu soal traveling? Ingin coba traveling pertama kali? Masih takut bepergian jauh tapi udah kebelet liburan? Jangan ke Jogja kalo kamu masih berpikir panjang lebar untuk menentukan destinasi liburan kamu. Akan sulit menemukan alasan kenapa Jogja tidak bisa jadi tujuan liburan. Traveler newbie maupun yang sudah sabuk hitam pasti tidak akan menolak untuk liburan ke Jogja. Masih ragu untuk liburan ke Jogja? Pertimbangkan alasan berikut ini deh.

 

Akses Transportasi Mudah

Bus malam bisa jadi alternatif transportasi menuju Jogja (foto oleh denmas estu)

Punya anggaran lebih dan ingin cepat sampai? Bisa pilih maskapai penerbangan favorit kamu. Hampir semua maskapai penerbangan nasional mempunyai rute penerbangan menuju Jogja. Pilihan jam penerbangan juga bukan alasan, dari pagi hingga malam selalu ada pilihan penerbangan tujuan Jogja, dan juga dari Jogja dengan berbagai tujuan.

Anggaran mepet? Masih ada pilihan perjalanan darat. Gunakan kereta api atau bus. Pilihan kelas kereta api jelas jangan diragukan. Kereta api eksekutif sampai ekonomi subsidi tersedia. Tinggal sesuaikan saja dengan budget perjalananmu. Apalagi, jika menggunakan kereta api, kamu langsung bisa menuju pusat keramaian yang jadi icon Jogja, yaitu Malioboro. Jaraknya hanya beberapa langkah dari Stasiun Yogyakarta, dan tak jauh dari Stasiun Lempuyangan.

Kamu bismania? Pilihan bus juga banyak. Kalau dituliskan satu persatu di sini, mungkin kamu sampai bosan membaca. Sedikit tips, jika tujuan kamu lebih banyak di Jogja utara, turunlah di Terminal Jombor, sedangkan kalau kamu fokus di Jogja selatan, turun di Terminal Giwangan ya.

 

Hotel Bukan Masalah

Pilihan hotel menarik selalu ada (foto oleh Aninbram)

Berapapun anggaran penginapan kamu, selalu ada solusi. Hotel berbintang lima sampai homestay irit ada di Jogja. Homestay atau hostel biasanya mengenakan tarif menginap per malah yang murah, bahkan ada yang tak sampai selembar merah bergambar proklamator. Tapi, kalau kamu ingin menikmati fasilitas mewah, banyak pilihan hotel berbintang di berbagai lokasi di Jogja. Pergi bersama teman atau keluarga? Pilih guest house atau hostel yang kamu suka. Prawirotaman atau daerah Malioboro bisa jadi pilihan menarik, karena di sana banyak pilihan akomodasi yang murah meriah.

 

Perut Lapar Tak Jadi Beban

Angkringan Jogja sebagai Pengobat Lapar (foto oleh Destriyana)

Kebutuhan primer manusia yang satu ini memang tak bisa ditawar demi kelangsungan hidup. Masalah yang satu ini tak akan jadi beban pikiran kamu selama di Jogja. Cari tempat makan yang murah dan menu tak jadi masalah? Dekati daerah kampus, warung makan di daerah dekat kampus biasanya menjual menu makanan yang murah sekaligus mengenyangkan. Coba juga makan di angkringan yang sangat mudah dijumpai. Makanan khas Jogja seperti gudeg, ayam bacem, sate klathak, bakmi jawa, dan sebagainya mudah juga kamu temui. Kalau ingin mencari suasana nyaman untuk ngobrol, santai, sekaligus menghayati suasanya Jogja, banyak juga pilihan resto dan kafe yang cozy. Beberapa judul film yang mengambil setting di Jogja bisa jadi referensi kamu lho.

 

Destinasi Wisata Terbaik

Tamansari, salah satu tujuan wisata populer Jogja (foto oleh febru)

Apa yang kamu cari akan ada di Jogja. Pantai, candi, petualangan, belanja, kuliner, event budaya, apapun. Tak akan pernah ada habisnya menjelajah Jogja dan sekitarnya. Destinasi yang sudah terkenal seantero dunia, Candi Prambanan dan Candi Borobudur, mudah diakses dengan transportasi umum. Pantai yang tak kalah eksotis dengan deretan pantai di pulau dewata, berjajar di Gunungkidul. Event budaya yang seru turut tersaji di waktu tertentu. Menikmati panorama hijaunya pepohonan dan danau buatan, langsung saja ke Kulonprogo. Masih banyak lagi pilihan destinasi wisata di Jogja yang bisa kamu pilih sendiri.

 

Jogja di Malam Hari Selalu Menjadi Memori

Selalu ada memori setiap berkunjung ke Jogja (foto oleh Saeev Zuhri)

 

Boleh percaya, boleh tidak. Aura Jogja di malam hari sungguh berbeda dibanding siangnya. Selalu ada momen yang menjadi kenangan sendiri bagi orang-orang yang sudah pernah menjejakkan kaki di sini. Datangi Tugu Jogja di malam hari, atau nikmati suasana keramaian di Alun-alun Kidul. Hampir setiap malam Tugu Jogja selalu diramaikan oleh orang-orang yang berfoto ria di sekitarnya. Biasanya pun ada seniman yang mengamen dengan menjadi karakter tertentu, misalnya menjadi hantu atau berpakaian tradisional. Hati-hati jika ingin berfoto di Tugu, jangan sampai mengganggu lalu lintas kendaraan di sekitarnya. Di Alun-alun Kidul, kamu akan dijamu dengan lampu terang dari odong-odong yang disewakan. Kamu bisa menyewa odong-odong ini untuk mengitari alun-alun. Coba juga tradisi masangin, yaitu melewati beringin kembar di tengah lapangan dengan mata tertutup. Masih banyak spot memorable di Jogja yang bisa kamu telusuri sendiri.

 

Cinderamata yang Tak Bisa Dilewatkan

Salah satu hal yang wajib dibawa pulang adalah oleh-oleh (foto oleh febru)

Sudah menjadi hukum tak tertulis jika berlibur wajib membawa buah tangan. Bukan persoalan sulit kalau mau mencari oleh-oleh khas Jogja, baik berupa makanan maupun souvenir. Hampir sepanjang jalan Malioboro dijejali dengan penjual souvenir, mulai dari pakaian, gantungan kunci, hiasan, dsb. Jika ingin membeli dalam jumlah besar, sempatkan ke Pasar Beringharjo juga. Baju batik, atau bahan kain tersedia di Beringharjo, juga bermacam makanan tradisional Jogja. Bicara soal makanan, kamu juga wajib menyempatkan belanja oleh-oleh makanan di berbagai pusat oleh-oleh yang tersebar di Jogja. Bakpia, yangko, atau makanan khas Jogja bisa kamu dapatkan di sini. Tak perlu pusing jika ingin membawa buah tangan untuk kerabat atau teman.

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Pantai Goa Cemara, Tempat Penyu Mempertaruhkan Generasinya

Bantul memang terkenal dengan wisata pantainya yakni Parangtritis. Pantai ini sudah menjadi identitas dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan kamu belum ke Jogja namanya jika belum pernah ke pantai Parangtritis. Tapi kali ini kita tak akan bicara soal Parangtritis, tapi sebuah pantai baru yang terletak tak jauh dari Parangtritis. Berjarak kurang lebih 4 kilometer dari pantai Parangtritis, disana terdapat sebuah pantai indah dan sejuk bernama Goa Cemara. Jika kamu datang ke pantai ini kamu akan tahu kenapa dia disebut Goa Cemara. Jangan berharap kamu akan menyakiskan Goa pada umumnya, tapi kamu akan menyaksikan hamparan pohon cemara yang ranting-rantingnya membetuk lorong yang mirip seperti goa. Maka dari itu dia disebut pantai Goa Cemara. Di pantai ini kamu tak hanya bisa menikmati pemandangan alam dan suasananya yang sejuk tapi kamu juga bisa berpartisipasi dalam proses pelestarian penyu yang ada di Goa Cemara.

Gambar Tukik. Sumber wonderfulisland.id

 

Bicara soal penyu, hewan yang sudah muncul sejak akhir zaman Jura atau 145-200 juta tahun yang lalu ini masuk dalam golongan kelompok hewan vertebrata dari kelas reptilia. Sama seperti buaya, penyu juga menjadi salah satu hewan primitif yang masih hidup hingga saat ini. Di dunia sendiri penyu ada 7 jenis yang semua jenisnya sedang terancam kepunahan.

7 jenis penyu tersebut antara lain:

  • Penyu Belimbing,
  • Penyu Hijau,
  • Penyu Tempayan,
  • Penyu Pipih,
  • Penyu Sisik,
  • Penyu Lekang, dan
  • Penyu Kempi.

6 dari 7 jenis penyu tersebut bisa ditemukan di Indonesia kecuali Penyu Kempi yang hanya bisa ditemukan di Atlantik dan perairan Meksiko.

Beberapa kelompok peneliti mengalami kesulitan untuk menghitung dengan pasti jumlah semua jenis Penyu yang tersisa di seluruh dunia. Hal tersebut karena semua penyu jantan dan penyu yang masih muda menghabiskan seluruh waktunya di laut dan hanya penyu betina saja yang sesekali mendarat ke pantai untuk bertelur. Dilansir dari seaworld.org mengatakan bahwa cara yang digunakan untuk memperkirakan populasi penyu adalah dengan menghitung jumlah sarang yang dibuat oleh penyu betina ketika mereka hendak bertelur tiap tahunnya. Dari data International Union for Conservation of Nature yang dirilis pada tahun 2004 mengatakan bahwa jumlah penyu hijau menurun antara 48-67% dalam kurun waktu 120 sampai 140 tahun. Dari keadaan tersebut maka beberapa pemerintahan yang negaranya menjadi tempat “melahirkan” para penyu seperti pemerintah Indonesia menetapkan undang-undang untuk melindungi penyu yakni undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati.

Sumber wonderfulisland.id

Dari situlah kemudian pihak termasuk pemerintah D.I. Yogyakarta ikut mengupayakan pelestarian penyu. Di provinsi Yogyakarta sendiri ada tiga zona konservasi penyu yakni di Gunung Kidul, Kulon Progo dan Bantul. Di Bantul, Goa Cemara menjadi salah satu pusat pelestarian penyu Hijau. Menurut data dari Forum Konservasi Penyu Bantul atau FKPB mengatakan bahwa telah melepasliarkan sekitar 5300 lebih penyu dari tahun 2002 sampai 2012. Rata-rata dalam waktu setahun, warga bisa melepas liarkan 1000 ekor penyu ke laut. Sementara untuk penyu yang diselamatkan, dari tahun 2009 sampai 2015 ada 8000 penyu yang berhasil diselamatkan.

Meskipun nampak bahwa program konservasi ini berhasil, tapi dalam sebuah artikel yang ditulis oleh kantor berita ANTARA pada tahun 2015 mengatakan bahwa kondisi penyu yang ada di Goa Cemara menurun drastis. Meskipun pada tahun 2013 ditemukan 13 sarang dan pada tahun 2014 ditemukan 28 sarang sepanjang tahun, pada tahun 2015 sampai di bulan Agustus 2015 sarang penyu yang ditemukan hanya ada 5 sarang saja. Hal ini mengindikasikan bahwa populasi penyu menurun. Meskipun, lagi-lagi, tidak bisa disimpulkan berapa total jumlah populasi penyu di dunia karena tingkat kesulitan untuk mengumpulkan data. Walau bagaimana pun berdasarkan data IUCN mengatakan bahwa penyu hijau masuk dalam daftar merah spesies yang terancam punah.

Beberapa hal yang membuat populasi penyu menurun antara lain:

  • Limbah bekas jaring ikan. Akibat adanya limbah bekas jaring ikan yang bisa menjerat penyu dan kemudian membunuhnya.
  • Banyaknya sampah plastik. Jika plastik berada di laut, ia terlihat nampak seperti ubur-ubur yang menjadi salah satu makanan penyu. Alhasil, penyu melihat sampah plastik sebagai makanan dan kemudian memakan sampah plastik tersebut. Hal tersebut bisa membuat penyu mati karena tak bisa mengurai sampah plastik.
  • Banyaknya penangkapan penyu. Bagi beberapa budaya penyu adalah hewan yang wajib dalam sesaji mereka. Salah satunya di Bali yang kemudian membuat kebutuhan akan penyu meningkat.
  • Siklus bertelur yang beragam dan lama. Penyu memiliki situs bertelur 2-8 tahun sekali dengan keberhasilan yang tidak terlalu besar.
  • Daur hidup yang rentan. Dari ratusan telur, yang berhasil sampai menetas dan menjadi Tukik atau anak penyu hanya belasan.

 

Dari rangkaian data yang dijelaskan di atas, maka tetap diperlukan tindakan-tindakan untuk tetap menjaga populasi hewan yang bernafas dengan paru-paru ini. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menjaga kebersihan laut. Laut adalah habitat utama dari penyu, maka menjaga laut sama dengan menjaga kehidupan penyu.
  • Mengurangi sampah plastikSeperti yang sudah diutarakan di atas bahwa salah satu penyebab kematian penyu adalah ketika mereka secara tak sengaja memakan plastik yang nampak seperti ubur-ubur. Hal tersebut berbahaya bagi penyu.
  • Menjaga proses bertelur penyu. Penyu tidak bisa bertelur ketika tempat yang ia gunakan untuk bertelur ada cahaya dan bising. Hal tersebut bisa membuat mereka takut dan enggan bertelur.
  • Menghentikan Eksploitasi Penyu. Penghentian eksploitasi penyu ini bisa dimulai dengan tidak membeli barang-barang hasil dari olahan penyu, mulai dari souvenir, telur, bahkan daging.

Sumber wonderfulisland.id

Nah, di pantai Goa Cemara, pemerintaha setempat pun sudah membuat beberapa penangkaran untuk membantu melestarikan penyu. Apalagi Goa cemara yang terletak di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk dan terlindungi pohon-pohon cemara tersebut membuat pantai ini menjadi salah satu tempat paling nyaman dan  favorit bagi penyu untuk bertelur. Maka ketika kamu datang ke Goa Cemara, sempatkan lah sejenak untuk melihat proses pemeliharaan dan penangkaran penyu. Jika kamu datang di waktu yang tepat, kamu juga bisa ikut dalam proses pelepas-liaran tukik atau anak penyu ke laut. Menyenangkan bukan? Jaga selalu alam dan seisinya demi kebaikan kita semua. So! Jadilah wisatawan yang cerdas dan perhatian pada lingkungan. Happy traveling!

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

30 Angkringan Paling Hits Di Jogja

Angkringan sudah menjadi hal yang umum bagi masyarakat Jogja dan seolah tak terpisahkan. Setiap kampung hampir pasti terdapat gerobak penuh makanan yang tak hanya dimanfaatkan sebagai tempat pelepas lapar dan haus, tapi juga sebagai tempat bersosialisasi, sekedar berbincang hal-hal terkini, membahas program pemerintah yang menggelitik, atau hanya sekadar membahas aplikasi gadget terkini.

Angkringan menjadi salah satu ikon Jogja, karena erat hubungannya dengan mahasiswa pendatang dengan uang bulanan yang pas-pasan dan harus bertahan hidup dengan anggaran seadanya. Harga makanan di warung sederhana yang juga disebut warung koboi ini pada umumnya memang murah meriah. Saat ini sebungkus nasi kucing berharga Rp 1500 – Rp  2000. Disebut nasi kucing karena porsinya yang mini, dan dulu dianggap hanya pas untuk pakan kucing. Makanya, dalam satu kali makan, biasanya orang-orang akan mengambil 3-5 bungkus sesuai kapasitas perutnya. Komponen nasi kucing pun saat ini bervariasi, mulai dari sambel teri yang pedas dan asinnya tidak pernah berhenti menggoda lidah, oseng tempe yang selalu dirindukan, bahkan ada pula yang mengemas gudeg dalam bentuk nasi kucing. Masing-masing pemilik warung memiliki varian menu sendiri.

Sejarah angkringan sejatinya bermula dari Klaten

Sejarah angkringan sendiri bermula dari hijrahnya Mbah Pairo, seorang warga Cawas, Klaten, ke Jogja untuk menyambung hidup. Daerah asalnya merupakan tempat yang kurang cocok untuk bertani, maka Mbah Pairo pindah ke Jogja dan membuka usaha warung angkringan di emplasemen Stasiun Yogyakarta. Singkat cerita, akhirnya masyarakat mulai menggemari angkringan yang kini menjamur di seluruh Jogja, bahkan hingga kota-kota lain.

Meski identik dengan kalangan menengah bawah, kini pun angkringan telah “naik kelas” dengan adanya angkringan dengan tempat yang lebih besar dan terkesan mewah, walaupun varian makanan yang dihadirkan tidak meninggalkan keasliannya. Konsep angkringan tetap tidak hilang, sebagai tempat pengisi perut sekaligus tempat bercengkerama dan bersosialisasi.

Beberapa pilihan angkringan yang menjadi ikon dan direkomendasikan oleh khalayak bisa kamu simak di bawah ini

1. Angkringan Stasiun Tugu

Angkringan di utara Stasiun Yogyakarta atau akrab disebut Stasiun Tugu selalu jadi incaran wisatawan ketika traveling di Jogja. Di sini, kamu bisa menemukan banyak warung berderet dengan pilihan makanan yang juga banyak. Salah satu pelopor angkringan di sini adalah Lik Man, yang merupakan anak dari Mbah Pairo. Di sini, menu yang jadi buruan karena keunikannya adalah kopi jos, tak lain dan tak bukan adalah kopi hitam yang diberi bongkahan arang yang masih membara.

2. Angkringan KR

Tak jauh dari angkringan tugu, tepatnya di emperan Kantor Pusat Harian Kedaulatan Rakyat. Angkringan ini juga menjadi buruan wisatawan, bahkan juga tak jarang dijadikan tempat gathering berbagai komunitas di Jogja. Menu yang dihadirkan di sini juga membuat bingung, karena pilihan makanan dan minuman yang dihadirkan sangat beragam. Aneka cemilan hingga nasi bungkus dengan beragam pilihan lauknya akan membuat kamu bingung ingin mencoba yang mana terlebih dahulu.

3. Angkringan Wijilan

Sedikit berbeda dengan angkringan pada umumnya. Angkringan wijilan menyediakan menu prasmanan. Pengunjung bebas mengambil nasi sepuasnya dan pilihan sayur dan lauk yang beragam pula. Selain makanan berat, ada pula menu cemilan. Mulai dari gorengan, sate usus, sate telur puyuh, hingga kue-kue basah tradisional.  Tempatnya juga cukup luas dan tersedia pilihan tempat duduk dan lesehan, terletak di Jalan Wijilan, dari Plengkung Wijilan terus saja ke arah Selatan.

4. Angkringan JAC / Pendopo Dalem

Jika kamu mencari tempat yang lebih “wah” dari angkringan biasanya, kamu harus datang ke sini. Siang hari, tempat ini menjadi Restoran Pendopo Dalem, sedangkan malam harinya berkamuflase menjadi angkringan JAC, yang dikelola oleh Jogja Automotive Community. Dengan interior jawa yang klasik dan tempat yang luas, kamu akan tertegun dengan suasana yang dihadirkan di sini. Menu makanan tradisional yang dihadirkan juga beragam. Terdapat cemilan kue basah, sate, dan makanan berat seperti nasi brongkos. Ada pula bakmi jawa yang bisa kamu pesan di sini. Untuk minumannya, tersedia wedang gajah, yaitu susu yang diberi campuran rempah-rempah. Oh iya, di sini tersedia wifi gratis yang bisa kamu manfaatkan.

5. Angkringan Bonbin

Terletak tak jauh dari Kebun Binatang Gembira Loka, di sisi sebelah timur. Nasi kucing yang disajikan di tempat ini dikenal selalu hadir dalam kondisi hangat. Pas untuk kamu yang mencari kehangatan mengatasi dinginnya malam Jogja. Terlebih, jika kamu juga memesan minuman hangat seperti teh, atau wedang jahe.

6. Angkringan Nganggo Suwe

Meski namanya “nganggo suwe” tapi kamu tidak akan menunggu lama untuk melupakan laparmu. Di warung sederhana yang berposisi di Jalan Pramuka, tepat di pertigaan lampu merah ini, kamu langsung dihadapkan pada pilihan sulit, akan mengambil makanan apa. Mau langsung makan berat, tinggal pilih saja, ada nasi bakar, nasi oseng teri, nasi oseng tempe, dengan lauk yang juga beragam, mulai dari ayam goreng, burung puyuh, telur balado, dll. Kalau ingin makanan ringan, tersedia berbagai keripik, ubi goreng, aneka sate, dll. Sedangkan minuman penghangat badan, kamu bisa pesan wedang asem atau wedang uwuh yang sudah jadi ikon di sini.

7. Angkringan Klebengan

Angkringan ini sudah jamak dikenal di kalangan mahasiswa, karena lokasinya yang tepat di utara kampus Fakultas Peternakan UGM, tepatnya di area GOR Klebengan. Selain karena lokasi yang dekat dengan kos-kosan dan kampus, angkringan ini ramah dengan kantong mahasiswa, sehingga banyak yang memilih makan di sini ketika kondisi keuangan masih dalam kondisi paceklik. Walaupun harga murah, makanan di sini tetap nikmat disantap, apalagi bersama dengan teman. Perut lapar tak jadi masalah kala tanggal tua.

8. Angkringan Pak Satari

Warung milik Pak Satari ini selalu ramai walaupun lokasinya sedikit jauh dari pusat kota Jogja. Di angkringan yang terletak di Jalan Magelang Km.15 ini, bukan lagi hadir dengan gerobak tradisional seperti biasanya, melainkan sebuah evolusi angkringan yang berada di sebuah ruko dengan tenda di halamannya, sebagai tempat untuk menikmati makanan dan minuman sembari merasakan suasana pinggir Jalan Magelang di malam hari. Varian nasi kucing yang dihadirkan di sini terhitung sangat banyak, begitupun dengan pilihan lauknya.

9. Angkringan Sendang

Jika di warung koboi pada umumnya dijumpai nasi kucing dalam casing kertas koran atau kertas minyak sebagai bungkus terluarnya, di sini nasi kucing yang disajikan dibungkus dalam kertas “custom” dengan identitas angkringan sendang. Selain menu yang ortodoks, nasi kucing sambel teri dan oseng tempe, di warung yang terletak di depan restoran Sendang Ayu ini juga terdapat pilihan nasi kucing dengan varian nasi bakar, nasi bandeng, sate bakso, dsb.

10. Angkringan Jeng Nana


Masih produk evolusi angkringan yang lokasinya di tengah kota, tepatnya di Jalan C Simanjuntak 79, Terban. Tempatnya sedikit masuk gang, tapi dapat dilalui kendaraan roda empat. Tempatnya berupa rumah toko, tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil. Menu yang tersedia seperti biasanya, namun disajikan prasmanan. Masakan yang tradisional terasa lebih spesial. Kalau posisi kamu di sekitar UGM, kedai yang satu ini boleh jadi jujugan.

 

11. Angkringan Galau


Katanya, salah satu obat galau yang mujarab adalah makan. Makanya konsep tempat satu ini adalah sebagai obat galau, terutama untuk mahasiswa yang tugas akhirnya tak kunjung selesai. Galau ini itu hilang setelah menyantap nasi mercon pindang, atau nasi kerang lombok ijo. Suasana di sini tidak terlihat galau sama sekali, selalu ramai. Jadi, kalau kamu sedang dirundung galau, arahkan saja dirimu ke seberang Perumahan MBS Condong Catur (300 meter utara UII)

 

12. Angkringan BK Ngasem


Saat tugas atau pekerjaan menumpuk, perut lapar, dan butuh suasana berbeda, tempat ini sangat pas dijadikan tujuan utama. Tersedia fasilitas wifi, tempat luas, dan selalu tersedia nasi panas yang bisa diambil sendiri. Di angkringan yang berlokasi di Jalan Nogosari 11 Patehan ini memang sering dijumpai mahasiswa yang mengerjakan tugas sembari menuntaskan kelaparan yang dialami. Kapan lagi bisa menikmati nasi ikan tongkol dengan sate usus sembari menyelesaikan pekerjaan.

 

13. Angkringan Code


Sempat redup akibat revitalisasi Kali Code, kini Angkringan Code kembali eksis setelah Jalan Prau yang terletak di selatan McDonalds Sudirman kembali dibuka seperti biasa. Sepanjang jalan ini berderet berbagai macam warung yang tergabung dalam sebuah paguyuban. Sembari menikmati hangatnya kopi hitam, kamu bisa melihat pemandangan malam Kali Code. Jembatan Gondolayu juga terlihat di kejauhan. Kebersahajaan yang romantis dapat kamu alami sembari meresapi keindahan malam Jogja.

 

14. House of Raminten


Meski terbilang bukan angkringan secara harafiah, di kafe ini terdapat menu tradisional yang bisa kamu pesan. Ada nasi kucing dengan porsi single, double, bahkan triple. Sebagai pendamping nasi kucing kamu juga bisa memesan mendoan, atau menu minuman yang unik dan hanya ada di sini, misalnya susu prawan tancep. Ditambah lagi interior di dalam kafe yang berlokasi di Jalan FM Noto ini memiliki aura jawa yang kental, serta kostum pramusaji yang bertema jawa klasik. Tak heran jika House of Raminten selalu ramai dikunjungi baik siang maupun malam, sampai subuh, karena kafe ini buka 24 jam.

 

15. Le Waroenk


Ini bukan kafe a la France dengan adiboga barat yang mewah, namun kedai yang tetap membawa ikon angkringan, yaitu gerobak, yang dipadukan dengan tempat nongkrong yang nyaman. Di Le Waroenk yang beralamat di Jalan Cik Ditiro ini, terdapat perpaduan warung koboi klasik dengan modernitas menu tanpa meninggalkan akarnya. Terdapat pilihan menu nasi kucing yang berbeda dari biasanya, seperti nasi rendang tempe, nasi sapi lada hitam, nasi sambal telur, yang didampingi berbagai lauk, misalnya tempe dan tahu bacem, ceker ayam bakar, tempe mendoan, sate sosis, sate nugget, dll.

 

Baca juga 35 Pilihan Bakmi Jawa di Jogja yang Bakal Memanjakan Lidahmu

 

16. Sego Macan


Jika nasi kucing sudah umum diketahui, di warung Sego Macan ini terdapat versi upgrade dari nasi kucing. Seperti namanya, sego macan, terdapat nasi putih dalam porsi cukup, dipadu dengan oseng bihun dan kering tempe. Sambal yang disertakan mampu membuat orang mengaum seperti macan. Di warung yang dimiliki oleh bassist salah satu band metal yang cukup eksis ini, terdapat juga menu lain, misalnya tempe mendoan, tahu cocol, roti bakar, dan aneka minuman pelepas dahaga. Terdapat beberapa cabang Sego Macan, antara lain utara Fakultas Peternakan UGM, dan di daerah Nologaten.

 

17. Angkringan Mojok


Tersebutlah suatu kedai yang populer di Jalan Damai. Tempatnya memang berada di pojok. Tempat ini sering dijadikan tempat diskusi dan bertukar pikiran penulis muda di Jogja. Terkadang beberapa komunitas juga mengadakan pertemuan di sini. Nasi kucing adalah kewajiban menu di sini, selain pelengkap yang tak kalah menarik. Yang jadi andalan di sini adalah kopi nusantara dan es kawista susu.

 

18. Angkringan 17


Di Jalan DI Panjaitan no.17, terdapat angkringan yang terlihat sederhana, namun penuh dengan sajian istimewa makanan dan minuman yang bukan hanya menu standar warung koboi . Selain nasi kucing, Angkringan 17 juga menjual aneka chinese food, semisal mie ayam, capcay, fuyung hay, kwetiau, dan chicken katsu. Minuman yang bisa kamu pilih pun tidak main-main, mulai red squash, choco soda, orange tea, hingga wedang uwuh. Istimewanya lagi, tersedia free wifi yang bisa kamu manfaatkan juga.

 

19. Angkringan Ratu


Percaya tidak percaya, angkringan ini termasuk dalam daftar angkringan favorit wisatawan mancanegara. Wisman gemar mampir ke kedai yang ada di Jogja Paradise, Jalan Magelang depan Hotel Sahid Rich ini karena tempat yang nyaman dan bersih. Selain itu, menu di sini juga tak kalah menarik dan masih mengikuti akarnya. Ada nasi gendeng dengan berbagai level, mulai dari basic, intermediate, hingga advance, mengikuti banyaknya capcaisin yang akan membakar lidahmu. Selain nasi gendeng, ada pula nasi bakar, ceker tugel, dan sate usus yang selalu jadi favorit

 

20. Angkringan Dowo


Dowo berarti panjang. Jangan berpikiran aneh-aneh tentang panjang. Di angkringan ini terdapat meja panjang yang jadi ikon, sehingga namanya pun dikaitkan dengan meja panjang ini. Lokasinya cukup strategis dan mudah dijangkau, di Jalan Ipda Tut Harsono 48. Konsepnya pun semi-modern. Interiornya tidak bermodel klasik, sedikit kekinian, dan dipadu dengan menu tradisional. Ada free wifi pula di sini yang akan membuat nongkrong kamu makin nyaman.

 

21. Angkringan Nasi Kucing 78


Sedikit mengarah ke barat, tepatnya di Perumahan Pesona Munggur, Jalan Godean Km 7,5. Suasana yang dihadirkan tetap menganut angkringan tradisional dengan gerobaknya, namun diberi sentuhan sedikit modern terutama di sisi makanan. Tempatnya pun cukup luas, dan selalu ramai pengunjung. Angkringan ini ternyata tak hanya ada di Jogja, namun juga kota-kota lain hingga ke ibu kota.

 

22. Angkringan Gadjah


Makan di angkringan, tapi serasa makan di restoran. Iya, itulah kesan yang langsung terasa ketika memasuki tempat makan yang terletak di Jalan Kaliurang Km.9 ini. Tempatnya luas dan nyaman, bahkan tersedia joglo, meeting room, smoking area, hingga taman bermain anak. Menu yang disajikan juga tak kalah menarik, menawarkan 150 jenis menu mulai dari asem-asem jawa, oseng-oseng lompong, oseng-oseng genjer, dan beragam minuman dengan wedang gadjah sebagai jagonya angkringan ini.

 

23. Angkringan Mbah Darso


Bagi penyuka pedas, harus mampir ke warung yang beralamat di Jalan Glagahsari, Umbulharjo ini. Terdapat 3 jenis sambal yang bisa ambil sendiri, yaitu sambal dadak, sambal lamongan, dan sambal tomat. Angkringan ini juga menggoda pengunjung dengan aneka lauk yang sudah seolah melambai-lambai meminta diambil. Ada ayam goreng, sate telur, sate usus, sate ayam, sate udang, gorengan, dan masih banyak pilihan menu lauk dan minuman yang bisa kamu pesan.

 

24. Kedai Angkringan Margomulyo


Di balik ramai dan riuhnya jalanan di sekitar Malioboro, ternyata ada pula tempat yang layak dijadikan persinggahan setelah lelah berbelanja dan berjalan-jalan. Angkringan Margomulyo ini terletak tepat di Jalan Margomulyo, alias Jalan A Yani. Posisinya sebelum Hamzah Batik, di kanan jalan. Angkringan ini belum begitu lama ada, namun sudah mulai memikat hati pengunjungnya. Banyak wisatawan mancanegara yang suka dengan angkringan ini. Salah satu menu favoritnya adalah pisang bakar dengan vla vanila.

 

25. Angkringan Tekoo


Seiring perkembangan zaman, menu angkringan tak hanya itu-itu saja. Namun konsepnya tetap tak meninggalkan fungsinya sebagai tempat nongkrong dan bersosialisasi. Hal ini yang dimunculkan Angkringan Tekoo, dengan menghadirkan menu yang berbeda dari angkringan lain. Kamu bisa memesan mides, mie yang berbeda karena menggunakan tapioka sebagai bahan bakunya. Teksturnya kenyal dengan penyajian secara nyemek, atau dengan sedikit kuah. Selain mie, masih ada pilihan makanan dan minuman lain. Namun yang jadi andalan adalah berbagai macam kopi untuk para pecandu kafein.

 

26. Angkringan Ndhelik


Tempat nongkrong yang satu ini cukup hitz di kalangan mahasiswa, karena letaknya yang ada di Jalan Pandega Marta berdekatan dengan kawasan kos-kosan. Selain itu, harga yang terjangkau dan adanya wifi gratis juga jadi pemikat mahasiswa yang membutuhkan koneksi internet untuk menyelesaikan tugas-tugas sekaligus mengisi perut, dan berdiskusi dengan teman. Dinamakan ndhelik karena memang tempatnya sedikit ngumpet, tapi tetap mudah dijangkau dari jalan utama. Pilihan menunya juga beragam, mulai dari sekedar cemilan seperti tahu dan tempe cocol, makanan berat berupa nasi, dan pilihan minuman, dan yang utama adalah kopi.

 

27. Warung AJS


Karena nama adalah doa, maka sang pemilik memberi nama usahanya ini AJS, singkatan dari Angkringan Jenak Semanak, yang maksudnya adalah angkringan yang membuat betah. Tak salah, tempat ini memiliki suasana nyaman dan banyak ornamen jawa yang dihadirkan di sini. Tempat ini memang ditujukan sebagai tempat srawung, tempat orang saling bertemu dan berbincang dengan suasana yang mendukung. Hidangan pelengkap berbincang selalu tersedia di sini, mulai dari kopi, teh, jahe, hingga nasi dan aneka lauknya. Warung AJS ini berada di Jalan Nyi Pembayun, Prenggan, Kotagede.

 

28. Angkringan Batas Kota


Posisinya memang berada di batas kota, di Jalan AM Sangaji, perbatasan wilayah Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Sleman. Bagi kamu yang merindukan suasana tempat nongkrong tradisional dengan lalu lalang kendaraan sebagai hiburan, cocok untuk mampir ke sini. Angkringan ini juga dikenal dengan Angkringan Pak Muji, sesuai nama pemiliknya. Jangan ragu untuk mengajak Pak Muji berbincang, karena beliau dikenal ramah. Menu tradisional warung koboi tersaji di sini, dan kamu bisa meminta laukmu untuk dibakar.

 

29. Angkringan Jentik


Kedai yang berlokasi di Jalan Selokan Mataram 99, Mundu, Seturan ini menghadirkan salah satu inovasi kuliner di Jogja. Selain menghadirkan suasana nyaman untuk nongkrong, menu yang ditawarkan di Angkringan Jentik pun kreatif. Ada menu nasi rainbow alias nasi pelangi. Iya, nasi pelangi. Seperti pelangi yang berwarna-warni, nasi rainbow ini juga berwarna-warni, yaitu merah dari nasi merah, kuning dari tambahan kunyit, dan hijau dari daun suji. Selain nasi rainbow, ada pula ayam setan, yaitu ayam dengan bumbu pedas yang bisa kamu pilih sendiri tingkat kepedasannya sesuai kemampuanmu.

 

30. Angkringan Sarkimpul


Untuk makan siang, angkringan yang memiliki slogan “berdiri sejak kau mendua” ini bisa jadi tujuan utama, terutama jika sedang berada di area Terban. Menu nasi dengan lauk yang beragam ditemani dengan bermacam minuman. Harganya juga ramah di kantong, sehingga banyak yang mengisi perut yang kosong di sini.

 

Itu baru sebagian kecil angkringan di Jogja. Angkringan selalu menyimpan sejuta cerita di baliknya. Mana angkringan favorit kamu?

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Pengrajin Perak Kotagede, Riwayatmu Kini

Ketika kamu jalan-jalan ke Jogjakarta tentunya oleh-oleh menjadi hal yang sangat penting, bukan? Kalau soal makanan mungkin kalian semua tahu bahwa bakpia adalah salah satu oleh-oleh wajib yang harus kamu bawa jika kamu berkunjung ke Jogja. Tapi bagaimana dengan oleh-oleh lain? Apa Jogja hanya punya bakpia? Oh… tentu tidak! Perak adalah salah satu oleh-oleh yang wajib kamu bawa dari Jogja. Kotagede adalah satu-satunya kampung wisata di Jogja yang dipenuhi oleh pengrajin perak! Jika kamu ke sana, kamu juga bisa berkunjung ke beberapa destinasi wisata yang ada di sana seperti makam-makam Raja Mataram dan melihat arsitektur-arsitektur rumah kuno yang terhampar disana dan membeli beberapa cindera mata khas Kotagede yakni perak.

outlet perak kotagede

sumber: wonderfulisland.id

Jika bicara soal perak dan Kotagede, tidak akan ada habisnya. Industri yang dimulai dari ratusan tahun yang lalu ini dulu sempat menjadi penghasil uang utama bagi penduduk yang ada disana. Di masa Belanda banyak sekali orang-orang Belanda yang memesan alat-alat berbahan emas, perak, atau pun tembaga kepada para pengrajin disana. Hal itu berlanjut sampai sekarang. Banyak sekali pengrajin di kanan kiri jalan Kotagede jika kamu berkunjung disana. Dari mulai outlet-outlet kecil hingga outlet besar yang memiliki galery sendiri. Tapi saat ini nasib para pengrajin perak di Kotagede sedang berada di ujung tanduk.

Jadi begini pembahasan selengkapnya; Mungkin sebagian orang mengira bahwa bisnis perak yang ada di Kotagede sekarang sedang bergeliat karena banyaknya outlet perak yang bermunculan. Tapi ternyata kemunculan outlet tersebut tidak dibarengi jumlah pengrajin yang meningkat. Dari data yang didapatkan oleh National Geographic yang mewawancarai koordinator Arsitek Komunitas bernama Yuli Kusworo pada tahun 2014 mengatakan bahwa jumlah pengrajin di Kotagede semakin lama semakin berkurang. Hal tersebut dimulai pada tahun 2006 ketika gempa besar melanda Jogja. Banyaknya bangunan yang roboh dan membutuhkan renovasi, membuat banyak orang mencari tenaga kuli bangunan untuk merenovasi bangunan mereka. Hal tersebut yang kemudian membuat banyak pengrajin perak yang banting stir menjadi tukang bangunan karena uang yang didapatkan disana jauh lebih besar dari yang mereka dapatkan ketika menjadi pengrajin perak.

outlet pengrajin perak kotagede

sumber: wonderfulisland.id

Sementara dikutip dari Solo Pos tahn 2014, pada tahun 2003 para pengrajin perak tersebut mampu meraih untuk hingga 20-30 juta sebulan. Sementara itu, di tahun 2014, menurut pemaparan salah satu pengusaha perak, untuk bisa mendapatkan 5 juta perbulan saja sudah sangat sulit. Hal tersebut karena mahalnya bahan baku perak yang mencapai harga 7.8 juta perkilo. Selain itu, setelah peristiwa gempa, tepatnya sejak tahun 2007 tidak ada peningkatan ekspor perak dari Kotagede yang signifikan. Hal tersebutlah yang kemudian membuat jumlah pengrajin perak di Kotagede yang awalnya 90% dari total penduduk, berkurang drastis menjadi hanya 30-40% saja.

Menurut salah satu pengrajin, peralatan yang mereka miliki sangatlah kuno dan tertinggal 20 tahun dari peralatan produksi perak terbaru. Hal itulah yang semakin membuat perak di Kotagede tidak bisa berkembang secara signifikan. Kotagede banyak kalah bersaing dengan Jawa Timur dan Tiongkok yang di Jawa Timur, mampu memproduksi 100 keping suvenir perak perhari, sementara di Kotagede hanya mampu memproduksi sekitar 10 keping perhari saja.

hasil kerajinan perak kotagede

sumber: wonderfulisland.id

Keadaan ini semakin parah dengan jumlah pesanan yang menurun setiap tahunnya dan regenerasi pengrajin yang kurang membuat kerajinan perak Kotagede semakin terancam. Kebanyakan generasi muda tidak tertarik untuk berbisnis perak karena gajinya yang kecil dan omsetnya yang semakin lama semakin susah didapatkan. Tapi meskipun keadaan semakin sulit, masih ada beberapa pihak yang mencoba menyelamatkan bisnis ini. Beberapa pengrajin perak di Kotagede sendiri misalnya, mencoba berinovasi pada produk kerajinan mereka dengan mencampur bahan baku perak dengan tembaga dan nikel untuk membuatnya semakin murah dan mendongkrak penjualan. Hal tersebut ternyata cukup berhasil karena cukup diminati oleh banyak pembeli karena harganya yang relatif murah. Dengan inovasi tersebut, omset pendapatan pengrajin cenderung stabil.

Sementara Arsitek Komunitas memiliki caranya sendiri untuk menyelamatkan buah tangan khas Jogja ini. Arkom sendiri memiliki solusi yang sempat dilakukan pada tahun 2015 yakni sebagai berikut;

  • Menggali Potensi Pengrajin Perak.
  • Menggeser mindset buruh menjadi desainer perak.
  • Bekerja sama dengan British Council Indonesia.
  • Mendatangkan 2 desainer perhiasan: Simon Fraser dan Elizabeth Wright.
  • Memberikan pelatihan 5 hari pada 22 pengrajin.

Arkom mengharapkan dengan diadakannya pelatihan tersebut, akan meningkatkan omset penjualan perak dan kemudian mampu menyelamatkan kerajinan khas Jogja yang satu ini.

Begitulah kira-kira keadaan perak di Kotagede. Kota yang penuh dengan pengrajin itu kini terancam keberadaannya. Padahal kerajinan perak di Kotagede sudah terkenal sampai ke manca negara dan menjadi salah satu icon penting dari Yogyakarta. Jadi, jika ingin beli oleh-oleh di Jogja jangan lupa mampir ke Kotagede dan beli beberapa suvenir perak yang pas untuk kamu. So! Happy traveling!

Sumber : Wonderfulisland Indonesia