Jogja adalah sebuah tempat yang penuh dengan destinasi wisata sejarah. Dari yang paling fenomenal yakni Prambanan, maaf tidak menyebut Borobudur, karena sebenarnya Borobudur masuk daerah Magelang, Jawa Tengah, sampai beberapa candi lain yang juga wajib untuk dikunjungi seperti Candi Ratu Boko, Candi Plaosan, dan sebuah candi di atas awan bernama Candi Ijo. Kamu pasti terheran-heran ketika tahu bahwa di Jogja ada sebuah candi di atas awan kan? Jika kamu sering membaca, kamu pasti tahu dengan legenda Taman Gantung Babylonia yang seakan-akan terlihat mengambang di atas awan, padahal Taman Gantung tersebut berada di dataran tinggi dan jalan menuju tempat tersebut tertutupi awan. Seperti itulah Candi Ijo, candi di atas awan.

candi Ijo keren

sumber : spotunik.com

Berjarak sekitar 4 kilometer dari candi Ratu Boko dan terletak di atas ketinggian 375 mdpl. Itulah kenapa Candi Ijo menjadi Candi dengan tempat naung tertinggi di Jogja dan bisa disebut candi di atas awan. Karena ketika kamu kesana, kamu akan mendapatkan pemandangan alam yang indah, tak hanya pemandangan candinya yang menakjubkan.

Well, sekarang kita akan coba membahas sedikit demi sedikit candi Ijo ini. Jika tadi sudah disebutkan bahwa candi ini dibangun sekitar abad ke sembilan masehi, ada prasasti yang bernama Prasati Poh yang menyebutkan candi ini bernama Candi Ijo. Prasasti tersebut tercatat bertahun 906 masehi. Itu artinya, sekarang umur candi Ijo sekitar 1100 tahun lebih. It’s quiet old! Menurut beberapa peneliti, candi Ijo merupakan tempat pemujaan, dimana hal tersebut dapat dilihat dari prasasti yang ada di teras ke-9 yang bertuliskan Guyman atau Bhuyutan yang berarti pertapaan.

candi Ijo keren

sumber : spotunik.com

Lagi, menurut ahli sejarah nih ya, candi Ijo ada di masa pemerintahan Rakai Pikatan dan rakai Kayuwangi yang merupakan raja dari kerajaan Medang Mataram. Lalu berdasarkan sejarah jugam candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1886 oleh H.E Dorrepal lalu beberapa tahun berikutnya, peneliti lain bernama C.A. Rosemeir juga menemukan 3 buah arca batu dan Lingga-Yoni yang ada di bilik Candi Induk. Selain dua orang tersebut, ada juga seorang bernama H.L Heidjie Melville yang merupakan orang pertama yang berhasil membuat tata letak atau denah dari komplek Candi Ijo.

Bicara soal denah komplek candi Ijo, kamu harus tahu bahwa jika kamu berkunjung kesana, kamu tak hanya mendapatkan sebuah candi, tapi ada beberapa candi yang lain. Komplek candi yang luasnya sekitar 0,8 hektar tersebut terdiri dari 17 struktur bagian dan terbagi dalam 11 teras berundak. Jika kamu masuk ke area Candi Ijo, kamu akan melihat di bagian barat terdapat reruntuhan candi, sementara pencandian utama berada di bagian timur. Selain itu, dibagian timur juga ada candi Pengapit dan candi Perwara yang berdiri bersama Candi Induk. Ketiga candi Perwara yang ada disana menghadap ke candi utama. Sementara candi Perwara yang berada di tengah merupakan tempat perlindungan arca Lembu Nandini yang merupakan kendaraan salah satu Trimurti.

Well, kurang lebih itulah penjelasan mengenai sejarah dan denah dari candi Ijo. Nah, sekarang kita akan masuk pada penjelasan karakteristik candi Induk yang ada di kompleks candi Ijo. Candi Induk ini berdiri di atas denah dasar yang berbentuk persegi. Lalu pada pintu masuknya berada di pertengahan di bagian dinding sis barat. Di pintu masuk, ada 3 relung dengan ukiran Kala Makara. Relung-relung tersebut kosong, yang menurut beberapa orang diduga relung tersebut dahulu ada sebuah arca di dalamnya. Lalu jika kamu ingin menuju pintu yang terletak 120 cm di atas tanah, maka dibuatkan tangga lengkap dengan pipi tangga yang berbentuk Makara. Makara itu adalah sejenis makhluk mitos yang berbentuk ikan dengan belalai gajah.

candi Ijo keren

sumber : spotunik.com

Selanjutnya, pada bagian pintu masuk juga terdapat ukiran Makara berupa mulut raksasa Kala yang tersambung dengan Makara. Pola Kala-Makara ini sangat lazim ditemui di candi-candi di Jawa Tengah. Lalu di bagian dalam mulut Makara tersebut terdapat relief burung Bayan kecil. Di bagian candi induk juga terdapat jendela palsu di bagian luar dinding utara, timur, dan selatan. Ambang jendela pun dibingkai dengan sepasang Makara dan Kepala Kala. Sementara itu, di bagian dalam candi induk terdapat Lingga Yoni yang disangga figur ular sendok. Menurut para peneliti Lingga Yoni menggambarkan kesatuan Shiwa dan Parwati dan ular sendok sendiri melambangkan penyangga bumi.

Well, kurang lebih itulah penjelasan tentang candi induk dan komplek candi Ijo yang menakjubkan. Jika kamu masih penasaran, kamu bisa datang disana dan menikmati keindahan arsitektur kuno leluhur kita dan tentunya pemandangan alamnya yang menakjubkan. So, happy traveling guys!

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *