7 Oleh-Oleh Khas Jogja (Nomor 5 Bikin Ngilerr Bro!!)

Jogja adalah salah satu destinasi wisata yang sangat populer bagi banyak wisatawan. Hampir di setiap weekend dan libur panjang, Jogja selalu menjadi pilihan utama para pelancong untuk menghabiskan waktu liburan mereka. Well, kalau liburan pasti kurang asyik kalau nggak bawa oleh-oleh pas pulang. Nah, ini ada 7 oleh-oleh khas Jogja yang bisa kamu bawa pulang dan jadi “bukti” kalau kamu udah pernah ke Jogja.

1.     Bakpia.

Sumber: google.co.id

Sumber: google.co.id

Siapa yang tak kenal dengan panganan yang satu ini. Camilan khas Jogja ini sudah mendunia dan dikenal oleh banyak kalangan. Bahkan, ada sebutan bahwa kalau ke Jogja dan nggak beli Bakpia, maka kamu nggak ke Jogja. Bakpia merupakan salah satu oleh-oleh khas Jogja yang wajib kamu bawa pulang. Panganan yang berasal dari budaya tionghoa ini sekarang memiliki banyak sekali merek yang terkenal. Selain itu juga sudah banyak varian rasanya. Kalau dulu mungkin hanya rasa kacang hijau, tapi sekarang kamu bisa menemukan rasa coklat, keju, dan rasa favorit yang lain.

2.     Coklat.

Sumber: google.co.id

Sumber: google.co.id

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa coklat bukan merupakan oleh-oleh khas Jogja yang harus kamu bawa pulang, karena Coklat adalah produk luar negeri. Tapi kamu salah kalau kamu berpikir seperti itu sekarang. Kenapa? Karena Jogja juga punya banyak lahan penghasil cocoa yang merupakan cikal bakal coklat. Itulah yang kemudian membuat banyak orang mulai memulai usaha coklat. Dan, as you know, Jogja selalu punya ide kreatif untuk mengolah segala macam hal, salah satunya adalah coklat ini. Nah, sekarang, di Jogja juga udah banyak bermunculan produk-produk coklat. Mereka juga berinovasi dengan berbagai macam bahan. Bahkan ada coklat dengan rasa rendang! Can you believe it?!

3.     Batik.

Sumber: google.co.id

Sumber: google.co.id

Kalau yang satu ini, memang, Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja eh eh bukan Solo, tapi Jogja juga jadi sentra pengrajin batik yang sudah cukup terkenal di dunia. Batik merupakan salah satu oleh-oleh khas Jogja yang bisa kamu beli di pusat-pusat oleh-oleh di manapun di Jogja. Jogja juga menghadirkan banyak sekali pilihan batik dari mulai motiv tradisional, sampai motiv-motiv yang sudah dimodifikasi. Soal harga, juga bermacam-macam. Dari yang paling murah sampai yang paling mahal tersedia di Jogja. Jadi, kalau ke Jogja, batik adalah oleh-oleh wajib.

4.     Perak.

Sumber: google.co.id

Sumber: google.co.id

Kalau kamu ke Jogja, kamu harus mampir ke Kotagede untuk membeli perak. Yups! Perak merupakan salah satu oleh-oleh khas Jogja yang wajib kamu jadikan cindera mata. Kalau kamu pergi ke Kotagede, kamu akan mendapati banyak sekali toko yang menawarkan perak mereka dengan berbagai macam desain. Bahkan kamu bisa meminta desainmu sendiri. Soal kualitas, kamu tak perlu khawatir, perak Kotagede punya kualitas terbaik.

5.     Gudeg.

Sumber: google.co.id

Sumber: google.co.id

Oleh-oleh khas Jogja yang satu ini pasti sudah sangat akrab di telinga kalian kan?  Semua orang yang pernah ke Jogja pasti pernah makan kuliner yang satu ini. Cuma satu-satunya dan hanya ada di Jogja (kalau nyari yang asli ye, kalau bikin di rumah sih bisa aje, tapi yang signature Jogja, ya Cuma di Jogja). Rasanya yang manis dan unik benar-benar membuat ketagihan. Ada berbagai macam jenis dari yang kering sampai yang basah. Dari gudeg ceker, sampai ayam utuh. Semua ada di Jogja. Dan rasanya…. bikin ngilerrrr!!!

6.     Salak Pondoh.

Sumber: google.co.id

Sumber: google.co.id

Selanjutnya yang menjadi oleh-oleh khas Jogja adalah Salak Pondoh. Buah yang satu ini bisa kamu dapatkan di daerah Sleman dan sekitarnya. Soal rasa kamu tak perlu khawatir, semua orang tahu kalau rasa salak Pondoh ini manis dan teksturnya sangat menggiurkan. Salak Pondoh cocok untuk kamu jadikan salah satu oleh-oleh khas Jogja yang kamu bawa kembali ke kampung halaman.

7.     Geplak.

Sumber: google.co.id

Sumber: google.co.id

Kuliner yang manis-manis memang sudah menjadi ciri khas dari Jogjakarta. Nah, oleh-oleh khas Jogja yang satu ini juga memiliki rasa yang manis. Geplak namanya. Panganan yang satu ini adalah makan khas Bantul yang bisa kamu temui kalau kamu sedang berlibur di daerah Bantul. Geplak terbuat dari daging kelapa yang diiris tipis-tipis lalu dimasak dengan campuran Gula. Seperti yang kamu tahu, selalu ada modifikasi dari hampir semua kuliner Jogja. Geplak pun juga begitu. Kamu bisa menjajal banyak varian rasa Geplak!

 

So, itu adalah 7 oleh-oleh khas Jogja yang wajib kamu bawa sebagai cindera mata ketika kamu berkunjung ke Jogja. Masih banyak oleh-oleh yang lain yang bisa kamu bawa. Tapi yang 7 di atas adalah hal wajib yang harus kamu bawa biar temen-temen kamu nggak bilang “Ke Jogja kok nggak beli …. “.

See you on the next article.

 

sumber : wonderfulisland.id

Cemilan Pembuat Baper, Teringat Jogja Kembali

Sebagai salah satu kota tujuan wisata paling ramai di Indonesia, Yogyakarta menyimpan beragam daya tarik. Salah satunya komponen primer dalam kehidupan manusia, yaitu makanan. Banyak orang yang sudah paham jika gudeg adalah salah satu makanan khas Jogja. Namun, apa lagi makanan khas Jogja yang bisa dicicipi ketika liburan di Jogja?

Tiwul

R tiwul

(sumber foto airtanganku.blogspot.com)

Dulu, tiwul menjadi makanan pokok, sebelum beras menjadi bahan makanan utama seperti sekarang. Bahan utama tiwul adalah ketela pohon alias singkong yang telah dikeringkan dan ditumbuk. Tumbukan singkong yang kering ini disebut gaplek. Tiwul adalah hasil matang dari gaplek yang telah dimasak dengan cara dikukus. Umumnya, tiwul yang dimakan sebagai camilan mempunyai rasa manis, hasil dari penambahan gula merah saat tiwul dimasak. Namun, tiwul yang dimakan sebagai makanan pokok tidak ditambahkan gula. Tiwul yang tawar juga dapat dimakan oleh penderita diabetes lho. Saat ini juga banyak dijual tiwul instan yang awet dan bisa jadi buah tangan.

Gathot

R gatot 2

(sumber foto ceritakulinerindonesia.blogspot.co.id)

Bukan, bukan gagal total! Gathot masih “bersaudara” dengan tiwul, karena bahan dasar mereka sama, yaitu gaplek. Gathot berasal dari gaplek yang tidak ditumbuk, namun diiris tipis. Gaplek yang kering, direndam dengan air kapur sirih semalaman lalu dikukus, dan jadilah gathot. Gathot biasa disajikan tawar, dengan tambahan parutan kelapa. Yang menarik, warna gathot ini hitam, tak seperti saudaranya yang berwarna putih. Saat proses pengeringan, terdapat bakteri atau jamur yang memecah senyawa yang terdapat dalam ketela, sehingga warnanya berubah menjadi hitam. Walaupun terdapat bakteri atau jamur yang mengubah senyawa karbohidrat ketela ini, tak perlu khawatir, karena gatot aman untuk dimakan. Tekstur gathot sendiri kenyal dengan rasa tawar. Jika suka rasa manis, boleh ditambah gula merah cair. Sekarang sudah mudah ditemukan gathot instan.

Jadah

R jadah

(sumber foto http://niqmahpalupi.blogspot.com)

Pamor makanan ini sudah cukup beken di mata wisatawan yang berlibur di Jogja, karena mudah ditemui dan biasanya terdapat penjual jadah yang berdekatan dengan destinasi wisata. Salah satu yang cukup terkenal adalah jadah Mbah Carik. Jadah terbuat dari ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan ditumbuk. Rasa jadah cenderung tawar dan agak gurih, karena terdapat penambahan kelapa. Biasanya, jadah dimakan bersama tempe atau tahu bacem.

Geblek

R geblek

(sumber foto http://gemmazani.blogspot.com)

Mungkin pamor geblek tak setenar bakpia atau tiwul. Tapi percayalah, geblek cukup banyak diminati sebagai cemilan tradisional, terutama di daerah Kulon Progo sampai Purworejo. Geblek juga dapat ditemui di Kebumen dengan nama berbeda, yaitu golak. Bentuk geblek pada umumnya berbentuk bundar, atau seperti angka delapan (8), namun ada pula yang berkreasi membentuk geblek menjadi kepang. Tekstur geblek kenyal dan cenderung alot, terbuat dari campuran tepung tapioka dan tepung kanji. Saat terbaik memakan geblek adalah sesaat setelah digoreng, ketika tidak terlalu panas namun masih hangat. Ketika geblek masih hangat, geblek masih empuk dan tidak terlalu alot dengan sensasi crispy. Geblek biasa ditemui di pasar tradisional.

Tempe Benguk

R tempe benguk

(sumber foto http://www.lungo.id)

Kita semua paham bahwa tempe terbuat dari kedelai yang diproses sedemikian rupa sehingga kedelai terikat dengan jamur Rhizopus oligosporus. Namun tempe benguk bukan terbuat dari kedelai, melainkan terbuat dari kacang koro benguk (Mucuna prurien ).  Kacang koro benguk tidak bisa lunak, sehingga ada sensasi unik ketika kita memakan tempe benguk, tak seperti tempe kedelai pada umumnya. Lembutnya jamur tempe beradu dengan renyahnya kacang koro. Biasanya, tempe benguk diolah dengan dibacem. Namun ada pula yang mengolahnya dengan cara digoreng.

Cenil

R Cenil-3

(sumber foto http://www.tulungagungtourism.com)

Siapa sangka kalau makanan kenyal ini terbuat dari tapioka. Cenil dibuat dari tapioka yang dicampur dengan terigu, disajikan bersama parutan kelapa. Rasanya yang gurih dipadukan dengan kinca yang manis, membuat makanan ini menjadi unik dan kaya rasa. Selain itu, biasanya cenil ditambahkan pewarna makanan alami, sehingga membuat tampilannya makin menarik.

Kipo

R kuekipojno

(sumber foto http://jnokitchen.blogspot.co.id)

Jajanan tradisional yang berasal dari Kotagede ini sempat mengalami kepunahan sebelum akhirnya diangkat kembali dan dikenal banyak orang saat ini. Kipo terbuat dari tepung beras yang berpadu dengan kelapa dan diberi air daun suji sebagai pewarna alami. Adonan kipo dipanggang menggunakan pinggan tanah liat yang dialasi daun pisang. Ukurannya mungil, hanya sebesar ibu jari orang dewasa. Asal nama kipo bermula dari saat makanan ini ditemukan, banyak pembeli yang bertanya bahwa ini makanan apa, dalam bahasa jawa “iki opo?” hingga akhirnya disebut kipo.

Bakpia

R bakpia

(sumber foto https://www.kulinerblusukan.com)

Makanan yang satu ini sudah jamak dikenal, dan merupakan salah satu panganan paling dicari wisatawan yang hendak mencari oleh-oleh. Rupanya, asal mula bakpia bukan dari Yogyakarta sendiri, melainkan dari Tiongkok. Dalam bahasa Hokkian, leluhur bakpia bernama tou luk pia, yang secara harafiah berarti kue berisi daging. Dalam evolusinya, makanan ini pelan-pelan disesuaikan dengan lidah lokal, menjadi berisi kacang hijau. Sekarang, isi bakpia makin divariasikan. Tak sulit untuk menemukan rasa bakpia yang makin kekinian, mulai dari rasa coklat, keju, kumbu hitam, bahkan mulai ada yang menjual bakpia dengan rasa teh hijau.

Geplak

R 20160126015331

(sumber foto gudeg.net)

Makanan kebanggaan Bantul ini mudah ditemukan di pusat oleh-oleh. Rasanya manis, terbuat dari kelapa parut yang dicampur gula merah, kemudian ditambah pewarna makanan. Aslinya, warna geplak hanya dua, putih dan coklat. Geplak berwarna putih menggunakan gula tebu, sedangkan geplak berwarna coklat menggunakan gula kelapa atau gula aren. Namun, seiring perkembangan zaman, geplak memiliki berbagai variasi warna dengan penambahan pewarna makanan. Bahkan, kini sering ditemukan geplak dengan variasi rasa, misalnya jahe, strawberry, durian, dll.

Yangko

R yangko

(sumber foto http://katalogkuliner.com)

Yangko sedikit mengingatkan kita pada kue mochi dari Jepang. Teksturnya dan bentuknya memang mirip, walaupun tidak sama. Terbuat dari paduan tepung ketan dan kacang tanah, kemudian dibalut tepung di bagian luarnya. Bentuknya kotak, memiliki aroma wangi yang khas berpadu dengan aroma kacang membuatnya selalu menggoda untuk dimakan. Tidak sulit untuk menemukan yangko, cukup mendatangi pusat oleh-oleh terdekat. Yangko saat ini juga memiliki varian rasa yang bermacam-macam

Intip

R INTIP SOLO

(sumber foto google)

Intip sebenarnya berasal dari Solo. Namun, pada perkembangannya intip juga menjadi oleh-oleh favorit di berbagai pusat oleh-oleh di Yogya. Kita tidak membicarakan tindakan asusila yang namanya sama dengan makanan ini. Intip sejatinya adalah makanan “sisa”, dulu ketika rice cooker belum populer, memasak nasi dilakukan dengan cara merebus beras terlebih dahulu, kemudian nasi setengah matang tadi ditanak kembali. Saat menanak nasi, beras yang direbus tadi meninggalkan kerak gosong di dasar panci. Kerak ini kemudian dijemur hingga kering, hingga proses terakhir digoreng. Kerak nasi yang telah digoreng ini dinamakan intip. Makanan ini juga mempunyai “saudara” yaitu rengginang. Bedanya, rengginang berasal dari beras ketan. Intip memiliki dua varian rasa, manis dan asin. Intip manis dikucuri gula merah cair, sedangkan intip asin ditaburi sedikit garam.

Sempe

R sempe

(sumber foto http://camelia-at-home.blogspot.com)

Kue klasik ini berkembang mengikuti zaman. Saat ini sempe memiliki variasi ukuran dan rasa. Bentuknya tetap bundar dan pipih dengan tekstur renyah dan crunchy, ukurannya mulai dari sebesar koin hingga sebesar piring tatakan gelas. Rasa asli sempe sebenarnya sedikit gurih, namun dengan modifikasi rasa, kini banyak ditemukan sempe dengan berbagai rasa.

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

30 Angkringan Paling Hits Di Jogja

Angkringan sudah menjadi hal yang umum bagi masyarakat Jogja dan seolah tak terpisahkan. Setiap kampung hampir pasti terdapat gerobak penuh makanan yang tak hanya dimanfaatkan sebagai tempat pelepas lapar dan haus, tapi juga sebagai tempat bersosialisasi, sekedar berbincang hal-hal terkini, membahas program pemerintah yang menggelitik, atau hanya sekadar membahas aplikasi gadget terkini.

Angkringan menjadi salah satu ikon Jogja, karena erat hubungannya dengan mahasiswa pendatang dengan uang bulanan yang pas-pasan dan harus bertahan hidup dengan anggaran seadanya. Harga makanan di warung sederhana yang juga disebut warung koboi ini pada umumnya memang murah meriah. Saat ini sebungkus nasi kucing berharga Rp 1500 – Rp  2000. Disebut nasi kucing karena porsinya yang mini, dan dulu dianggap hanya pas untuk pakan kucing. Makanya, dalam satu kali makan, biasanya orang-orang akan mengambil 3-5 bungkus sesuai kapasitas perutnya. Komponen nasi kucing pun saat ini bervariasi, mulai dari sambel teri yang pedas dan asinnya tidak pernah berhenti menggoda lidah, oseng tempe yang selalu dirindukan, bahkan ada pula yang mengemas gudeg dalam bentuk nasi kucing. Masing-masing pemilik warung memiliki varian menu sendiri.

Sejarah angkringan sejatinya bermula dari Klaten

Sejarah angkringan sendiri bermula dari hijrahnya Mbah Pairo, seorang warga Cawas, Klaten, ke Jogja untuk menyambung hidup. Daerah asalnya merupakan tempat yang kurang cocok untuk bertani, maka Mbah Pairo pindah ke Jogja dan membuka usaha warung angkringan di emplasemen Stasiun Yogyakarta. Singkat cerita, akhirnya masyarakat mulai menggemari angkringan yang kini menjamur di seluruh Jogja, bahkan hingga kota-kota lain.

Meski identik dengan kalangan menengah bawah, kini pun angkringan telah “naik kelas” dengan adanya angkringan dengan tempat yang lebih besar dan terkesan mewah, walaupun varian makanan yang dihadirkan tidak meninggalkan keasliannya. Konsep angkringan tetap tidak hilang, sebagai tempat pengisi perut sekaligus tempat bercengkerama dan bersosialisasi.

Beberapa pilihan angkringan yang menjadi ikon dan direkomendasikan oleh khalayak bisa kamu simak di bawah ini

1. Angkringan Stasiun Tugu

Angkringan di utara Stasiun Yogyakarta atau akrab disebut Stasiun Tugu selalu jadi incaran wisatawan ketika traveling di Jogja. Di sini, kamu bisa menemukan banyak warung berderet dengan pilihan makanan yang juga banyak. Salah satu pelopor angkringan di sini adalah Lik Man, yang merupakan anak dari Mbah Pairo. Di sini, menu yang jadi buruan karena keunikannya adalah kopi jos, tak lain dan tak bukan adalah kopi hitam yang diberi bongkahan arang yang masih membara.

2. Angkringan KR

Tak jauh dari angkringan tugu, tepatnya di emperan Kantor Pusat Harian Kedaulatan Rakyat. Angkringan ini juga menjadi buruan wisatawan, bahkan juga tak jarang dijadikan tempat gathering berbagai komunitas di Jogja. Menu yang dihadirkan di sini juga membuat bingung, karena pilihan makanan dan minuman yang dihadirkan sangat beragam. Aneka cemilan hingga nasi bungkus dengan beragam pilihan lauknya akan membuat kamu bingung ingin mencoba yang mana terlebih dahulu.

3. Angkringan Wijilan

Sedikit berbeda dengan angkringan pada umumnya. Angkringan wijilan menyediakan menu prasmanan. Pengunjung bebas mengambil nasi sepuasnya dan pilihan sayur dan lauk yang beragam pula. Selain makanan berat, ada pula menu cemilan. Mulai dari gorengan, sate usus, sate telur puyuh, hingga kue-kue basah tradisional.  Tempatnya juga cukup luas dan tersedia pilihan tempat duduk dan lesehan, terletak di Jalan Wijilan, dari Plengkung Wijilan terus saja ke arah Selatan.

4. Angkringan JAC / Pendopo Dalem

Jika kamu mencari tempat yang lebih “wah” dari angkringan biasanya, kamu harus datang ke sini. Siang hari, tempat ini menjadi Restoran Pendopo Dalem, sedangkan malam harinya berkamuflase menjadi angkringan JAC, yang dikelola oleh Jogja Automotive Community. Dengan interior jawa yang klasik dan tempat yang luas, kamu akan tertegun dengan suasana yang dihadirkan di sini. Menu makanan tradisional yang dihadirkan juga beragam. Terdapat cemilan kue basah, sate, dan makanan berat seperti nasi brongkos. Ada pula bakmi jawa yang bisa kamu pesan di sini. Untuk minumannya, tersedia wedang gajah, yaitu susu yang diberi campuran rempah-rempah. Oh iya, di sini tersedia wifi gratis yang bisa kamu manfaatkan.

5. Angkringan Bonbin

Terletak tak jauh dari Kebun Binatang Gembira Loka, di sisi sebelah timur. Nasi kucing yang disajikan di tempat ini dikenal selalu hadir dalam kondisi hangat. Pas untuk kamu yang mencari kehangatan mengatasi dinginnya malam Jogja. Terlebih, jika kamu juga memesan minuman hangat seperti teh, atau wedang jahe.

6. Angkringan Nganggo Suwe

Meski namanya “nganggo suwe” tapi kamu tidak akan menunggu lama untuk melupakan laparmu. Di warung sederhana yang berposisi di Jalan Pramuka, tepat di pertigaan lampu merah ini, kamu langsung dihadapkan pada pilihan sulit, akan mengambil makanan apa. Mau langsung makan berat, tinggal pilih saja, ada nasi bakar, nasi oseng teri, nasi oseng tempe, dengan lauk yang juga beragam, mulai dari ayam goreng, burung puyuh, telur balado, dll. Kalau ingin makanan ringan, tersedia berbagai keripik, ubi goreng, aneka sate, dll. Sedangkan minuman penghangat badan, kamu bisa pesan wedang asem atau wedang uwuh yang sudah jadi ikon di sini.

7. Angkringan Klebengan

Angkringan ini sudah jamak dikenal di kalangan mahasiswa, karena lokasinya yang tepat di utara kampus Fakultas Peternakan UGM, tepatnya di area GOR Klebengan. Selain karena lokasi yang dekat dengan kos-kosan dan kampus, angkringan ini ramah dengan kantong mahasiswa, sehingga banyak yang memilih makan di sini ketika kondisi keuangan masih dalam kondisi paceklik. Walaupun harga murah, makanan di sini tetap nikmat disantap, apalagi bersama dengan teman. Perut lapar tak jadi masalah kala tanggal tua.

8. Angkringan Pak Satari

Warung milik Pak Satari ini selalu ramai walaupun lokasinya sedikit jauh dari pusat kota Jogja. Di angkringan yang terletak di Jalan Magelang Km.15 ini, bukan lagi hadir dengan gerobak tradisional seperti biasanya, melainkan sebuah evolusi angkringan yang berada di sebuah ruko dengan tenda di halamannya, sebagai tempat untuk menikmati makanan dan minuman sembari merasakan suasana pinggir Jalan Magelang di malam hari. Varian nasi kucing yang dihadirkan di sini terhitung sangat banyak, begitupun dengan pilihan lauknya.

9. Angkringan Sendang

Jika di warung koboi pada umumnya dijumpai nasi kucing dalam casing kertas koran atau kertas minyak sebagai bungkus terluarnya, di sini nasi kucing yang disajikan dibungkus dalam kertas “custom” dengan identitas angkringan sendang. Selain menu yang ortodoks, nasi kucing sambel teri dan oseng tempe, di warung yang terletak di depan restoran Sendang Ayu ini juga terdapat pilihan nasi kucing dengan varian nasi bakar, nasi bandeng, sate bakso, dsb.

10. Angkringan Jeng Nana


Masih produk evolusi angkringan yang lokasinya di tengah kota, tepatnya di Jalan C Simanjuntak 79, Terban. Tempatnya sedikit masuk gang, tapi dapat dilalui kendaraan roda empat. Tempatnya berupa rumah toko, tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil. Menu yang tersedia seperti biasanya, namun disajikan prasmanan. Masakan yang tradisional terasa lebih spesial. Kalau posisi kamu di sekitar UGM, kedai yang satu ini boleh jadi jujugan.

 

11. Angkringan Galau


Katanya, salah satu obat galau yang mujarab adalah makan. Makanya konsep tempat satu ini adalah sebagai obat galau, terutama untuk mahasiswa yang tugas akhirnya tak kunjung selesai. Galau ini itu hilang setelah menyantap nasi mercon pindang, atau nasi kerang lombok ijo. Suasana di sini tidak terlihat galau sama sekali, selalu ramai. Jadi, kalau kamu sedang dirundung galau, arahkan saja dirimu ke seberang Perumahan MBS Condong Catur (300 meter utara UII)

 

12. Angkringan BK Ngasem


Saat tugas atau pekerjaan menumpuk, perut lapar, dan butuh suasana berbeda, tempat ini sangat pas dijadikan tujuan utama. Tersedia fasilitas wifi, tempat luas, dan selalu tersedia nasi panas yang bisa diambil sendiri. Di angkringan yang berlokasi di Jalan Nogosari 11 Patehan ini memang sering dijumpai mahasiswa yang mengerjakan tugas sembari menuntaskan kelaparan yang dialami. Kapan lagi bisa menikmati nasi ikan tongkol dengan sate usus sembari menyelesaikan pekerjaan.

 

13. Angkringan Code


Sempat redup akibat revitalisasi Kali Code, kini Angkringan Code kembali eksis setelah Jalan Prau yang terletak di selatan McDonalds Sudirman kembali dibuka seperti biasa. Sepanjang jalan ini berderet berbagai macam warung yang tergabung dalam sebuah paguyuban. Sembari menikmati hangatnya kopi hitam, kamu bisa melihat pemandangan malam Kali Code. Jembatan Gondolayu juga terlihat di kejauhan. Kebersahajaan yang romantis dapat kamu alami sembari meresapi keindahan malam Jogja.

 

14. House of Raminten


Meski terbilang bukan angkringan secara harafiah, di kafe ini terdapat menu tradisional yang bisa kamu pesan. Ada nasi kucing dengan porsi single, double, bahkan triple. Sebagai pendamping nasi kucing kamu juga bisa memesan mendoan, atau menu minuman yang unik dan hanya ada di sini, misalnya susu prawan tancep. Ditambah lagi interior di dalam kafe yang berlokasi di Jalan FM Noto ini memiliki aura jawa yang kental, serta kostum pramusaji yang bertema jawa klasik. Tak heran jika House of Raminten selalu ramai dikunjungi baik siang maupun malam, sampai subuh, karena kafe ini buka 24 jam.

 

15. Le Waroenk


Ini bukan kafe a la France dengan adiboga barat yang mewah, namun kedai yang tetap membawa ikon angkringan, yaitu gerobak, yang dipadukan dengan tempat nongkrong yang nyaman. Di Le Waroenk yang beralamat di Jalan Cik Ditiro ini, terdapat perpaduan warung koboi klasik dengan modernitas menu tanpa meninggalkan akarnya. Terdapat pilihan menu nasi kucing yang berbeda dari biasanya, seperti nasi rendang tempe, nasi sapi lada hitam, nasi sambal telur, yang didampingi berbagai lauk, misalnya tempe dan tahu bacem, ceker ayam bakar, tempe mendoan, sate sosis, sate nugget, dll.

 

Baca juga 35 Pilihan Bakmi Jawa di Jogja yang Bakal Memanjakan Lidahmu

 

16. Sego Macan


Jika nasi kucing sudah umum diketahui, di warung Sego Macan ini terdapat versi upgrade dari nasi kucing. Seperti namanya, sego macan, terdapat nasi putih dalam porsi cukup, dipadu dengan oseng bihun dan kering tempe. Sambal yang disertakan mampu membuat orang mengaum seperti macan. Di warung yang dimiliki oleh bassist salah satu band metal yang cukup eksis ini, terdapat juga menu lain, misalnya tempe mendoan, tahu cocol, roti bakar, dan aneka minuman pelepas dahaga. Terdapat beberapa cabang Sego Macan, antara lain utara Fakultas Peternakan UGM, dan di daerah Nologaten.

 

17. Angkringan Mojok


Tersebutlah suatu kedai yang populer di Jalan Damai. Tempatnya memang berada di pojok. Tempat ini sering dijadikan tempat diskusi dan bertukar pikiran penulis muda di Jogja. Terkadang beberapa komunitas juga mengadakan pertemuan di sini. Nasi kucing adalah kewajiban menu di sini, selain pelengkap yang tak kalah menarik. Yang jadi andalan di sini adalah kopi nusantara dan es kawista susu.

 

18. Angkringan 17


Di Jalan DI Panjaitan no.17, terdapat angkringan yang terlihat sederhana, namun penuh dengan sajian istimewa makanan dan minuman yang bukan hanya menu standar warung koboi . Selain nasi kucing, Angkringan 17 juga menjual aneka chinese food, semisal mie ayam, capcay, fuyung hay, kwetiau, dan chicken katsu. Minuman yang bisa kamu pilih pun tidak main-main, mulai red squash, choco soda, orange tea, hingga wedang uwuh. Istimewanya lagi, tersedia free wifi yang bisa kamu manfaatkan juga.

 

19. Angkringan Ratu


Percaya tidak percaya, angkringan ini termasuk dalam daftar angkringan favorit wisatawan mancanegara. Wisman gemar mampir ke kedai yang ada di Jogja Paradise, Jalan Magelang depan Hotel Sahid Rich ini karena tempat yang nyaman dan bersih. Selain itu, menu di sini juga tak kalah menarik dan masih mengikuti akarnya. Ada nasi gendeng dengan berbagai level, mulai dari basic, intermediate, hingga advance, mengikuti banyaknya capcaisin yang akan membakar lidahmu. Selain nasi gendeng, ada pula nasi bakar, ceker tugel, dan sate usus yang selalu jadi favorit

 

20. Angkringan Dowo


Dowo berarti panjang. Jangan berpikiran aneh-aneh tentang panjang. Di angkringan ini terdapat meja panjang yang jadi ikon, sehingga namanya pun dikaitkan dengan meja panjang ini. Lokasinya cukup strategis dan mudah dijangkau, di Jalan Ipda Tut Harsono 48. Konsepnya pun semi-modern. Interiornya tidak bermodel klasik, sedikit kekinian, dan dipadu dengan menu tradisional. Ada free wifi pula di sini yang akan membuat nongkrong kamu makin nyaman.

 

21. Angkringan Nasi Kucing 78


Sedikit mengarah ke barat, tepatnya di Perumahan Pesona Munggur, Jalan Godean Km 7,5. Suasana yang dihadirkan tetap menganut angkringan tradisional dengan gerobaknya, namun diberi sentuhan sedikit modern terutama di sisi makanan. Tempatnya pun cukup luas, dan selalu ramai pengunjung. Angkringan ini ternyata tak hanya ada di Jogja, namun juga kota-kota lain hingga ke ibu kota.

 

22. Angkringan Gadjah


Makan di angkringan, tapi serasa makan di restoran. Iya, itulah kesan yang langsung terasa ketika memasuki tempat makan yang terletak di Jalan Kaliurang Km.9 ini. Tempatnya luas dan nyaman, bahkan tersedia joglo, meeting room, smoking area, hingga taman bermain anak. Menu yang disajikan juga tak kalah menarik, menawarkan 150 jenis menu mulai dari asem-asem jawa, oseng-oseng lompong, oseng-oseng genjer, dan beragam minuman dengan wedang gadjah sebagai jagonya angkringan ini.

 

23. Angkringan Mbah Darso


Bagi penyuka pedas, harus mampir ke warung yang beralamat di Jalan Glagahsari, Umbulharjo ini. Terdapat 3 jenis sambal yang bisa ambil sendiri, yaitu sambal dadak, sambal lamongan, dan sambal tomat. Angkringan ini juga menggoda pengunjung dengan aneka lauk yang sudah seolah melambai-lambai meminta diambil. Ada ayam goreng, sate telur, sate usus, sate ayam, sate udang, gorengan, dan masih banyak pilihan menu lauk dan minuman yang bisa kamu pesan.

 

24. Kedai Angkringan Margomulyo


Di balik ramai dan riuhnya jalanan di sekitar Malioboro, ternyata ada pula tempat yang layak dijadikan persinggahan setelah lelah berbelanja dan berjalan-jalan. Angkringan Margomulyo ini terletak tepat di Jalan Margomulyo, alias Jalan A Yani. Posisinya sebelum Hamzah Batik, di kanan jalan. Angkringan ini belum begitu lama ada, namun sudah mulai memikat hati pengunjungnya. Banyak wisatawan mancanegara yang suka dengan angkringan ini. Salah satu menu favoritnya adalah pisang bakar dengan vla vanila.

 

25. Angkringan Tekoo


Seiring perkembangan zaman, menu angkringan tak hanya itu-itu saja. Namun konsepnya tetap tak meninggalkan fungsinya sebagai tempat nongkrong dan bersosialisasi. Hal ini yang dimunculkan Angkringan Tekoo, dengan menghadirkan menu yang berbeda dari angkringan lain. Kamu bisa memesan mides, mie yang berbeda karena menggunakan tapioka sebagai bahan bakunya. Teksturnya kenyal dengan penyajian secara nyemek, atau dengan sedikit kuah. Selain mie, masih ada pilihan makanan dan minuman lain. Namun yang jadi andalan adalah berbagai macam kopi untuk para pecandu kafein.

 

26. Angkringan Ndhelik


Tempat nongkrong yang satu ini cukup hitz di kalangan mahasiswa, karena letaknya yang ada di Jalan Pandega Marta berdekatan dengan kawasan kos-kosan. Selain itu, harga yang terjangkau dan adanya wifi gratis juga jadi pemikat mahasiswa yang membutuhkan koneksi internet untuk menyelesaikan tugas-tugas sekaligus mengisi perut, dan berdiskusi dengan teman. Dinamakan ndhelik karena memang tempatnya sedikit ngumpet, tapi tetap mudah dijangkau dari jalan utama. Pilihan menunya juga beragam, mulai dari sekedar cemilan seperti tahu dan tempe cocol, makanan berat berupa nasi, dan pilihan minuman, dan yang utama adalah kopi.

 

27. Warung AJS


Karena nama adalah doa, maka sang pemilik memberi nama usahanya ini AJS, singkatan dari Angkringan Jenak Semanak, yang maksudnya adalah angkringan yang membuat betah. Tak salah, tempat ini memiliki suasana nyaman dan banyak ornamen jawa yang dihadirkan di sini. Tempat ini memang ditujukan sebagai tempat srawung, tempat orang saling bertemu dan berbincang dengan suasana yang mendukung. Hidangan pelengkap berbincang selalu tersedia di sini, mulai dari kopi, teh, jahe, hingga nasi dan aneka lauknya. Warung AJS ini berada di Jalan Nyi Pembayun, Prenggan, Kotagede.

 

28. Angkringan Batas Kota


Posisinya memang berada di batas kota, di Jalan AM Sangaji, perbatasan wilayah Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Sleman. Bagi kamu yang merindukan suasana tempat nongkrong tradisional dengan lalu lalang kendaraan sebagai hiburan, cocok untuk mampir ke sini. Angkringan ini juga dikenal dengan Angkringan Pak Muji, sesuai nama pemiliknya. Jangan ragu untuk mengajak Pak Muji berbincang, karena beliau dikenal ramah. Menu tradisional warung koboi tersaji di sini, dan kamu bisa meminta laukmu untuk dibakar.

 

29. Angkringan Jentik


Kedai yang berlokasi di Jalan Selokan Mataram 99, Mundu, Seturan ini menghadirkan salah satu inovasi kuliner di Jogja. Selain menghadirkan suasana nyaman untuk nongkrong, menu yang ditawarkan di Angkringan Jentik pun kreatif. Ada menu nasi rainbow alias nasi pelangi. Iya, nasi pelangi. Seperti pelangi yang berwarna-warni, nasi rainbow ini juga berwarna-warni, yaitu merah dari nasi merah, kuning dari tambahan kunyit, dan hijau dari daun suji. Selain nasi rainbow, ada pula ayam setan, yaitu ayam dengan bumbu pedas yang bisa kamu pilih sendiri tingkat kepedasannya sesuai kemampuanmu.

 

30. Angkringan Sarkimpul


Untuk makan siang, angkringan yang memiliki slogan “berdiri sejak kau mendua” ini bisa jadi tujuan utama, terutama jika sedang berada di area Terban. Menu nasi dengan lauk yang beragam ditemani dengan bermacam minuman. Harganya juga ramah di kantong, sehingga banyak yang mengisi perut yang kosong di sini.

 

Itu baru sebagian kecil angkringan di Jogja. Angkringan selalu menyimpan sejuta cerita di baliknya. Mana angkringan favorit kamu?

Sumber : Wonderfulisland Indonesia