Bantul memang terkenal dengan wisata pantainya yakni Parangtritis. Pantai ini sudah menjadi identitas dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan kamu belum ke Jogja namanya jika belum pernah ke pantai Parangtritis. Tapi kali ini kita tak akan bicara soal Parangtritis, tapi sebuah pantai baru yang terletak tak jauh dari Parangtritis. Berjarak kurang lebih 4 kilometer dari pantai Parangtritis, disana terdapat sebuah pantai indah dan sejuk bernama Goa Cemara. Jika kamu datang ke pantai ini kamu akan tahu kenapa dia disebut Goa Cemara. Jangan berharap kamu akan menyakiskan Goa pada umumnya, tapi kamu akan menyaksikan hamparan pohon cemara yang ranting-rantingnya membetuk lorong yang mirip seperti goa. Maka dari itu dia disebut pantai Goa Cemara. Di pantai ini kamu tak hanya bisa menikmati pemandangan alam dan suasananya yang sejuk tapi kamu juga bisa berpartisipasi dalam proses pelestarian penyu yang ada di Goa Cemara.

Gambar Tukik. Sumber wonderfulisland.id

 

Bicara soal penyu, hewan yang sudah muncul sejak akhir zaman Jura atau 145-200 juta tahun yang lalu ini masuk dalam golongan kelompok hewan vertebrata dari kelas reptilia. Sama seperti buaya, penyu juga menjadi salah satu hewan primitif yang masih hidup hingga saat ini. Di dunia sendiri penyu ada 7 jenis yang semua jenisnya sedang terancam kepunahan.

7 jenis penyu tersebut antara lain:

  • Penyu Belimbing,
  • Penyu Hijau,
  • Penyu Tempayan,
  • Penyu Pipih,
  • Penyu Sisik,
  • Penyu Lekang, dan
  • Penyu Kempi.

6 dari 7 jenis penyu tersebut bisa ditemukan di Indonesia kecuali Penyu Kempi yang hanya bisa ditemukan di Atlantik dan perairan Meksiko.

Beberapa kelompok peneliti mengalami kesulitan untuk menghitung dengan pasti jumlah semua jenis Penyu yang tersisa di seluruh dunia. Hal tersebut karena semua penyu jantan dan penyu yang masih muda menghabiskan seluruh waktunya di laut dan hanya penyu betina saja yang sesekali mendarat ke pantai untuk bertelur. Dilansir dari seaworld.org mengatakan bahwa cara yang digunakan untuk memperkirakan populasi penyu adalah dengan menghitung jumlah sarang yang dibuat oleh penyu betina ketika mereka hendak bertelur tiap tahunnya. Dari data International Union for Conservation of Nature yang dirilis pada tahun 2004 mengatakan bahwa jumlah penyu hijau menurun antara 48-67% dalam kurun waktu 120 sampai 140 tahun. Dari keadaan tersebut maka beberapa pemerintahan yang negaranya menjadi tempat “melahirkan” para penyu seperti pemerintah Indonesia menetapkan undang-undang untuk melindungi penyu yakni undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati.

Sumber wonderfulisland.id

Dari situlah kemudian pihak termasuk pemerintah D.I. Yogyakarta ikut mengupayakan pelestarian penyu. Di provinsi Yogyakarta sendiri ada tiga zona konservasi penyu yakni di Gunung Kidul, Kulon Progo dan Bantul. Di Bantul, Goa Cemara menjadi salah satu pusat pelestarian penyu Hijau. Menurut data dari Forum Konservasi Penyu Bantul atau FKPB mengatakan bahwa telah melepasliarkan sekitar 5300 lebih penyu dari tahun 2002 sampai 2012. Rata-rata dalam waktu setahun, warga bisa melepas liarkan 1000 ekor penyu ke laut. Sementara untuk penyu yang diselamatkan, dari tahun 2009 sampai 2015 ada 8000 penyu yang berhasil diselamatkan.

Meskipun nampak bahwa program konservasi ini berhasil, tapi dalam sebuah artikel yang ditulis oleh kantor berita ANTARA pada tahun 2015 mengatakan bahwa kondisi penyu yang ada di Goa Cemara menurun drastis. Meskipun pada tahun 2013 ditemukan 13 sarang dan pada tahun 2014 ditemukan 28 sarang sepanjang tahun, pada tahun 2015 sampai di bulan Agustus 2015 sarang penyu yang ditemukan hanya ada 5 sarang saja. Hal ini mengindikasikan bahwa populasi penyu menurun. Meskipun, lagi-lagi, tidak bisa disimpulkan berapa total jumlah populasi penyu di dunia karena tingkat kesulitan untuk mengumpulkan data. Walau bagaimana pun berdasarkan data IUCN mengatakan bahwa penyu hijau masuk dalam daftar merah spesies yang terancam punah.

Beberapa hal yang membuat populasi penyu menurun antara lain:

  • Limbah bekas jaring ikan. Akibat adanya limbah bekas jaring ikan yang bisa menjerat penyu dan kemudian membunuhnya.
  • Banyaknya sampah plastik. Jika plastik berada di laut, ia terlihat nampak seperti ubur-ubur yang menjadi salah satu makanan penyu. Alhasil, penyu melihat sampah plastik sebagai makanan dan kemudian memakan sampah plastik tersebut. Hal tersebut bisa membuat penyu mati karena tak bisa mengurai sampah plastik.
  • Banyaknya penangkapan penyu. Bagi beberapa budaya penyu adalah hewan yang wajib dalam sesaji mereka. Salah satunya di Bali yang kemudian membuat kebutuhan akan penyu meningkat.
  • Siklus bertelur yang beragam dan lama. Penyu memiliki situs bertelur 2-8 tahun sekali dengan keberhasilan yang tidak terlalu besar.
  • Daur hidup yang rentan. Dari ratusan telur, yang berhasil sampai menetas dan menjadi Tukik atau anak penyu hanya belasan.

 

Dari rangkaian data yang dijelaskan di atas, maka tetap diperlukan tindakan-tindakan untuk tetap menjaga populasi hewan yang bernafas dengan paru-paru ini. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menjaga kebersihan laut. Laut adalah habitat utama dari penyu, maka menjaga laut sama dengan menjaga kehidupan penyu.
  • Mengurangi sampah plastikSeperti yang sudah diutarakan di atas bahwa salah satu penyebab kematian penyu adalah ketika mereka secara tak sengaja memakan plastik yang nampak seperti ubur-ubur. Hal tersebut berbahaya bagi penyu.
  • Menjaga proses bertelur penyu. Penyu tidak bisa bertelur ketika tempat yang ia gunakan untuk bertelur ada cahaya dan bising. Hal tersebut bisa membuat mereka takut dan enggan bertelur.
  • Menghentikan Eksploitasi Penyu. Penghentian eksploitasi penyu ini bisa dimulai dengan tidak membeli barang-barang hasil dari olahan penyu, mulai dari souvenir, telur, bahkan daging.

Sumber wonderfulisland.id

Nah, di pantai Goa Cemara, pemerintaha setempat pun sudah membuat beberapa penangkaran untuk membantu melestarikan penyu. Apalagi Goa cemara yang terletak di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk dan terlindungi pohon-pohon cemara tersebut membuat pantai ini menjadi salah satu tempat paling nyaman dan  favorit bagi penyu untuk bertelur. Maka ketika kamu datang ke Goa Cemara, sempatkan lah sejenak untuk melihat proses pemeliharaan dan penangkaran penyu. Jika kamu datang di waktu yang tepat, kamu juga bisa ikut dalam proses pelepas-liaran tukik atau anak penyu ke laut. Menyenangkan bukan? Jaga selalu alam dan seisinya demi kebaikan kita semua. So! Jadilah wisatawan yang cerdas dan perhatian pada lingkungan. Happy traveling!

Sumber : Wonderfulisland Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *